Bunglon dan Pohon Wali

“Maksud sampean?”

“Ya itu tadi, sejak kecil kami—para pepohonan—diajari oleh orang tua kami bahwa kami hanya makhluk ciptaan, hidup-mati kami tergantung pada Dzat yang menciptakan kami: Gusti Allah Ta’ala. Dan kami meyakininya. Kemudian seiring pertumbuhan saya, saya jadi tahu bahwa Gusti Allah Ta’ala membekali saya berbagai potensi untuk menjalani hidup. Di antaranya, kemampuan saya dalam mengolah makanan lewat dedaunan. Hanya, pola yang berlangsung secara rutin ini, lambat laun melenakan saya: kadang saya merasa bahwa saya bisa makan—bisa hidup—karena saya mempunyai dedaunan, bukan karena Gusti Allah Ta’ala…”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sementara bunglon itu tampak manggut-manggut setengah takjub, pohon itu melanjutkan, “Inilah yang menjadikan saya sengaja merontokkan semua dedaunan saya. Sengaja saya melemahkan diri agar kembali merasakan bahwa semua kekuatan saya dalam menjalani hidup tak lain adalah pemberian-Nya, la khaula wa la quwwata illa billah. Dan, dalam keadaan ini, ketergantungan saya kepada Gusti Allah Ta’ala bertambah kuat. Kemudian, alhamdulillah, sampean lihat, pucuk-pucuk dedaunan pada reranting saya kembali ditumbuhkan-Nya. Dalam kondisi ini, keyakinan saya kepada Gusti Allah Ta’ala pun jadi bertambah…”

Si bunglon terlongong-longong mendengar penjelasan pohon itu hingga membiarkan seekor lalat lewat di depannya. Kemudian saat bunglon itu bertanya, “Lantas, bagaimana jika kelak rutinitas kembali melenakan sampean?” Si pohon menjawab bahwa ia akan melakukan hal itu lagi.

Matahari mulai meninggi, bunglon itu beranjak memanjat dengan maksud bersarang di pohon yang, menurutnya, bisa jadi telah dikaruniai sebagai pohon wali. Sementara itu, kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya itu sekonyong-konyong berhenti begitu mendapati seekor kucing membantu kakek itu menyeberang. Tidak ada yang tahu kenapa mereka melakukannya: apa karena heran atau takut menabrak seekor kucing. Sementara orang-orang yang berjalan di sekitar situ serempak mengarahkan gawai masing-masing ke arah kucing dan kakek itu. Memotreynya.

Kesugihan, 10:32, 1 Februari 2021.

Tinggalkan Balasan