Burung Sugeng

“Sukina, keturunan Mbah Sukino itu, memiliki bunga yang belum ada di dunia, mungkin hanya dia yang punya. Kata sesepuh kami, bunga itu harum baunya dan besar bunganya, tapi tangkainya kecil. Bunga itu warisan dari sesepuh keluarga Sukina, kemungkinan besar sangat sulit memintanya barang setangkai saja.”

Mendengar kabar itu, Sugeng seakan mendapatkan harapan burungnya bisa tertolong. Maka diutuslah salah satu pemuda untuk meminta bunga ke rumah Sukina. Seperti kata pemuda itu, Sukina tidak sudi memberikan bunganya. Karena mandat dari leluhurnya, bunga itu tidak boleh diberikan kepada siapa pun kecuali keturunannya. Harapan Sugeng untuk menyelamatkan burungnya dari kematian tinggal impian semata.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

***

Setelah bangun tidur, Sugeng mendengar burungnya bersuara. Sigap, ia mendatangi sangkar burungnya yang tergantung di beranda rumahnya dengan hati berbunga-bunga. Sugeng sangat bahagia melihat burungnya segar kembali, bulu-bulunya semerbak harum, dan semakin putih. Tapi kebahagiaannya luntur seketika ia melihat sisa bunga yang termakan oleh burungnya. Dadanya sesak, pikirannya kacau. Sudah jelas ia tahu bunga itu milik Sukina, dan entah dari mana burungnya mendapatkan bunga itu, ia tak tahu.

Kabar kembalinya keceriaan burung Sugeng tersebar ke seluruh pelosok desa, bersamaan merebaknya kabar hilangnya bunga milik Sukina. Tak bisa dielakkan, tuduhan bahwa Sugeng telah mencuri bunga milik Sukina pun tersebar. Menyebabkan ribut antardesa. Penduduk Desa Kulon meresa terhina karena bunga milik Sukina, wanita terhormat mereka, dicuri oleh Sugeng. Perang pun tak bisa dihindari, para pemuda dan sesepuh Desa Kulon mempersiapkan penyerangan demi membela kehormatan mereka. Penduduk Desa Waton dengan berat hati harus melawan, demi mempertahankan harga diri desanya.

Demi membela harga dirinya yang tidak bersalah, Sugeng menyambut serangan mereka. Sebelum pergi ke medan laga, Sugeng menghampiri sangkar burungnya.

“Kau yang mendamaikan masa lalu, dan menciptakan perang baru.”

Setelah agak lama menatap burungnya, ia berjalan menuju medan perang. Untuk terakhir kalinya, Sugeng membalikkan badan, menengok kembali sangkar burungnya. Tepat di sebalah kanan sangkar burung, Sugeng melihat Mbah Sukino tersenyum, di pundaknya, bertengger pasangan Burung Sugeng.

Yogyakarta, 2021.

Tinggalkan Balasan