Buya Syafii Maarif, Manusia Kalos Kagathosnya Nusantara

Jika memang Buya hanya mengejar eksistensi, kok agaknya bukan wilayahnya lagi. Lebih tepatnya, Buya mendidik umat Muslim, serta umat manusia secara umum agar semangat saling menghargai itu terus berlangsung. Tidak berhenti dengan satu dua alasan politis.

Setelah beliau wafat, kiranya masih banyak pemikir-pemikir, sarjana Muslim yang meneruskan semangat beliau. Karena apa yang sudah ditanam Buya, saya kira akan menjadi seperti taman bunga yang siapapun bisa menghirup wanginya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tentu bangsa Indonesia kehilangan sosok sederhana dan kalem itu. Di balik kekalemannya ia selalu gelisah, ketika konflik sosial selalu berbenturan dengan agama dan keberagaman.

Dalam salah satu pesannya, beliau menjelaskan bahwa “Islam yang damai, Islam yang konstruktif, dan Islam yang mengayomi bangsa ini dengan tanpa membeda-bedakan suku, agama dan lain-lain. Itu Islam yang benar, keislaman harus satu napas dengan ke-Indonesiaan dan kemanusiaan“.

Artinya Islam dan Indonesia adalah ruang kemanusiaan yang harus dijunjung tinggi. Karena yang terpenting adalah nilai, terpenting adalah aksiologis dari sebuah perjalanan.

Tinggalkan Balasan