Cahaya di Mata Si Buta

Husen adalah anak semata wayang Ustadz Sulaiman, seorang qori asal desa Mentaraman. Suara emas ustadz itu diwariskan sepenuhnya pada Husen, bahkan orang bilang bakatnya melebihi ayahnya itu. Sejak usia sepuluh tahun dia sudah mendapat undangan mengisi qiroah pada pengajian-pengajian di desanya. Dan semakin hari namanya semakin kondang.

Husen juga punya kecerdasan yang luar biasa. Daya ingatnya sangat kuat. Di usianya yang belum genap dua puluh tahun, tiga puluh juz al-Quran telah dihafalkannya di luar kepala. Selepas lulus SMP, setiap hari Husen diantar ayahnya setoran hafalan Quran pada Kiai Jufri. Kiai sepuh tetangga desa itu pun kemudian punya kedekatan khusus dengan Husen.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di balik kelebihan-kelebihan itu, Husen tetaplah Husen, seorang manusia biasa yang dilengkapi Tuhan dengan kelebihan dan kekurangan. Putra semata wayang Ustadz Sulaiman itu memiliki sebuah kekurangan yang membuat aktivitasnya akan sulit tanpa bantuan orang lain. Di kedua matanya terdapat kelainan sejak lahir, sehingga membuatnya tidak mampu melihat gemerlapnya dunia.

Baginya tak ada beda antara buruk rupa atau yang rupawan. Senyum atau muka masam juga tak ada artinya bagi dia yang tak mampu melihat. Bagi Husen, di dunia ini hanya ada gelap.
Dan kemudian dunia semakin terasa gulita bagi Husen. Sekitar satu tahun yang lalu, Ustadz Sulaiman meninggalkan dirinya untuk selamanya setelah menderita serangan jantung selama beberapa hari. Husen merasa seakan pegangan hidupnya telah menghilang. Selama ini ayahnya-lah yang mengenalkannya pada dunia serta hakikat kehidupan di dalamnya. Dia kenalkan anaknya itu pada keagungan Tuhan. Pada Nabi Muhammad, kekasih-Nya. Serta jalan untuk menuju cahaya-Nya. Dan tiba-tiba sosok hebat itu telah tiada, ketika hatinya baru mulai mendapatkan sinar-Nya.

Kini ia tinggal hanya bersama dengan ibunya di rumah sederhana pinggir desa. Melewati hari demi hari dalam kegelapan, tanpa adanya cahaya, dan harapan untuk bisa melihatnya dengan kedua belah mata. Lelaki buta itu merasa hidupnya berada dalam kebingungan. Sepeninggal ayahnya, hidup terasa karut marut dan semrawut. Namun dia sadar, terlalu larut dalam kekalutan hanya akan membuat hidupnya semakin redup.

Lalu ia teringat pada nasihat ayahnya serta ucapan-ucapan sejuk Kiai Jufri. Husen juga sering sowan kepada kiai sepuh itu. Perlahan-lahan nasihat yang berasal dari hati itu masuk ke dalam hati, membuat dadanya terasa lapang kembali. Bahwa apa yang diharapkan dalam dunia tak lebih dari sekadar kesenangan semu belaka. Hakikat dari semua kesenangan adalah di akhirat. Maka Husen kian menundukkan kepala ke haribaan Tuhan, berusaha merengkuh cahaya melalui mata batinnya.

“Tadi Cak Jaka mencarimu,” ibunya memberitahu. Wanita paro baya itu meletakkan tas belanjaannya di atas meja lantas duduk di kursi rotan.

“Ada apa Bu?” sahut Husen. Tasbih di tangannya ia lepaskan.

“Ada undangan. Kamu diminta jadi qori di acara pernikahan Mas Samsul juragan petai. Bisa kan?” tanya ibunya.

“Insyaallah Bu,” Husen menjawab sambil merebahkan badan di atas sajadah sebelah ranjang, tempat favoritnya. Pintu kamarnya terbuka, membuat ibunya mampu melihat semua aktivitasnya dalam ruangan itu.

Dan benar, beberapa hari kemudian Husen datang ke pengajian bersama Cak Jaka. Nama Husen begitu menyita perhatian. Pemuda tuna netra itu dikenal banyak orang karena hafalan Quran serta suara merdunya. Tak berapa lama setelah datang, gilirannya untuk membaca Quran pun tiba. Suara mendayu-dayunya segera menghipnotis para jemaah. Husen pun sangat meresapi bacaannya.

“Sen,” tegur Cak Jaka seusai Husen turun dari panggung.

Husen menoleh. Tangannya dituntun lelaki itu. Berjalan tertatih-tatih menuruni tangga panggung.

“Ada cewek tertarik padamu,” bisik Cak Jaka. Dia lihat Husen menyunggingkan senyum, tapi tak menyahut apa pun.

“Dia santrinya Kiai Jufri, bagaimana? Apa kamu juga tertarik?” Cak Jaka membisikkan tanya.

Kini mereka duduk di kursi khusus. Acara di panggung itu pun dilanjutkan dengan pengajian.

“Sen? Kamu sudah berusia dua lima kan sekarang? Kalau kamu nikah tahun ini, berarti kamu niru Nabi, tidak bidah. Kamu umat yang menghidupkan sunahnya, nikah di usia dua lima,” Cak Jaka terus bermanuver.

“Apa yang bisa membuatku tertarik padanya Cak?” Husen menyahut.

Cak Jaka mengambilkan botol minuman sembari mencari jawab.

“Dia itu cantik. Bukankah kamu suka gadis cantik?”

Husen tertawa, membuat Cak Jaka bingung.

“Cantik itu seperti apa Cak? Ada-ada saja. Mana tahu aku seperti apa kecantikan itu.”

“Mancung hidungnya, bercahaya kulitnya, memesona senyumnya, indah dan rapi giginya. Atau kamu punya kriteria sendiri mungkin. Yang gemuk?”

Tinggalkan Balasan