“Semuanya sama bagiku Cak. Aku hanya mampu merasakan kelembutan sikap dan halusnya tutur kata. Selain itu bagiku semua sama,” tangkis Husen.
“Hmmm. Iya, kamu benar. Akan tetapi, wanita cantik dan tidak itu ada bedanya ketika diraba. Bukankah kamu sudah terlatih membaca huruf braile? Nah, dalam hubungan rumah tangga, yang penting itu bisa diraba,” ucap Cak Jaka sambil terkekeh-kekeh.

Lelaki itu kembali melihat ada sesungging senyum malu-malu di sudut bibir Husen.
“Nanti kusampaikan salammu pada gadis itu. Namanya Sahira. Sekarang dia jadi guru ngaji di TPQ dekat rumahku.”
Begitulah, Jaka terus berbicara, merayu Husen untuk segera menikah. Sementara itu acara pengajian terus berjalan.
Tiga hari berikutnya Cak Jaka mengajak Husen ke rumah Sahira. Semacam taarufan. Setelah waktu terlewatkan lama dalam diam, Jaka merasa bosan melihat kedua orang sejoli itu terus menelan senyap.
“Hira, inilah pemuda yang tempo hari kau tanyakan itu. Alim orangnya. Merdu suaranya. Tampan pula wajahnya. Dan kau juga sudah tahu sisi kurangnya. Silakan kamu ajak bicara dia, karena dia tak melihat rupamu. Namun dia mendengar tegur sapa dan suaramu,” Cak Jaka mulai bermanuver lagi dengan kata-katanya.
“Iya. Maaf saya nggak menyuguhi apa-apa. Dan juga tidak mengajak bicara. Saya masih nggak nyangka Ustadz Husen akan datang kemari,” tukas gadis berkerudung ungu bernama Sahira itu.
Suara gadis itu terdengar lembut menyapa sanubarinya. Husen merasakan ada debar-debar dalam dadanya.
“Maaf kalau mengganggu, Mbak,” ucap Husen singkat.
“Oh, tidak. Tidak mengganggu sama sekali. Justru saya sangat bangga kedatangan tamu seorang qori seperti Ustadz Husen ini,” Sahira menjawab segera. Dan Husen tersenyum. Memang dia tak melihat kecantikan Sahira. Tersenyum atau muka ditekuk pun dia juga tak tahu. Tapi, indra pendengarannya menangkap suara itu demikian merdu. Menelusup ke dalam urat nadi, jantung hati dan lantas memilin-milin perasaannya.
“Mbak Sahira terlalu membesar-besarkan. Saya ini tuna netra yang berjalan pun butuh dituntun,” tukas Husen jujur.
“Saya tahu itu, Ustadz. Barangkali kelak saya bisa menuntun langkah Ustadz. Dan Ustadz bisa menuntun hati saya ini untuk menapaki jalan kebenaran,” tukas Sahira. Wajahnya tersipu. Demikian pula dengan Husen. Pemuda itu menunduk dengan muka yang menebal menahan malu.
“Wah. Kalau begini saya jadi ingin muda lagi,” seloroh Cak Jaka.
Ruangan itu kemudian riuh oleh tawa. Maka sukseslah Jaka menjadi makcomblang. Hati Husen terasa meluap-luap oleh bahagia. Ternyata Tuhan teramat pandai mengukir bahagia, sekalipun itu pada seorang manusia yang tak mampu melihat seperti dirinya. Bertasbihlah hatinya. Helaan napasnya juga diiringi hamdalah yang tak sudah-sudah. Nama Sahira pun kini muncul dalam untaian munajatnya.
Namun, suatu siang yang terik Cak Jaka datang ke rumah Husen dengan langkah tergesa. Dia menghampiri Husen yang tengah murojaah sembari berangin di teras rumahnya.
“Napasmu ngos-ngosan Cak. Dikejar anjing apa barusan mengejar Janda?” Husen berseloroh.
“Kamu ini lucu. Pas suasana ceria kamu murung. Pas suasana murung kamu malah mengajak tertawa,” sahut Cak Jaka.
“Memangnya kamu mau mengajakku murung?”
“Iya. Tadi malam kulihat Gus Mustofa datang ke rumah Sahira. Usut punya usut, ternyata putra Kiai Jufri itu mau melamarnya. Dan itu berarti posisimu bakal sulit. Sainganmu ketat!” tukas Cak Jaka berapi-api.
Husen membeku dalam diamnya. Dan Jaka melihat keganjilan itu. Husen malah tersenyum.
“Sen? Kamu tersenyum? Bahagia kamu? Tak cinta rupanya kau pada gadis manis itu?” Jaka mencerca tanya.
“Aku bahagia,” dan jawaban pendek pemuda tuna netra itu mengusik Jaka.
“Gila kamu!”
“Aku bahagia pernah dicintai orang yang dicintai oleh putra seorang kiai. Dan aku juga bahagia jika dia memilih pilihan yang tepat. Tentunya Gus Mustofa lebih tepat bagi dirinya.”
