Mulut Cak Jaka terbungkam seketika.
Waktu pun berlalu. Begitu pula cerita antara Husen dan Sahira itu. Dan kini Husen semakin sering mendapat undangan qiroah. Cak Jaka memang lincah. Video qiroah Husen ia unggah di youtube serta akun instagramnya. Bahkan akun yang ia namai Qori Tuna Netra itu telah memiliki ribuan subscriber dan follower di medsosnya. Pundi-pundi uang pun terus mengalir ke kantungnya. Semakin hari Jaka semakin gemilang menjadi manajer Qori Tuna Netra.

“Minumlah kopinya, Sen,” pinta Ibu Husen pagi-pagi.
Dua orang ibu-anak itu tengah menikmati udara pagi di teras rumah.
“Terima kasih Bu,” Husen menjawab sembari mengangkat gelas berisi kopi yang masih mengepulkan uap panas itu.
“Sen. Di pasar ibumu ini mendengar banyak orang yang bilang tentang dirimu,” ucap ibunya.
“Mereka bilang apa Bu?”
“Orang-orang itu kasihan pada kamu.”
“Ha-ha-ha….”
Perempuan itu mengernyitkan dahi melihat tawa anaknya mendengar berita yang menurutnya tak menyenangkan itu.
“Kok malah tertawa. Kamu itu diperalat Jaka. Dia mengenalkanmu pada Sahira hanya kedok agar dia bisa dekat padamu. Mengambil hatimu.”
“Maksud Ibu?”
“Setelah kini dekat denganmu, suaramu ditaruhnya di internet. Dia ambil uang dari situ. Belum lagi jika ada amplop untukmu. Dia sering mengambil isinya terlebih dahulu. Ini rahasia umum, Nak,” ucap ibu yang kini menjanda itu.
“Biarkan saja Bu. Dia juga butuh makan. Dia juga punya anak dan istri.”
“Iya. Aku cuma tak ingin anakku ini terus-terusan dibohongi. Dia tak izin padamu kan ambil keuntungan itu?”
“Biarkan saja Bu. Diniati sodaqoh saja. Hidup kita sudah berkecukupan kan?”
“Kamu ini, dijahati orang diam saja. Orang lain akan mudah mempermainkanmu. Mengotorimu. Meremehkanmu.”
“Dunia ini gelap sekali Bu. Hitam dan pekat. Namun Ibu tak perlu khawatir, tak akan ada orang yang mampu menjebakku dalam kegelapan itu, karena aku sendiri memang berada di situ. Dalam kegelapan itu. Tak ada juga orang yang mampu mengotoriku, karena aku sendiri adalah kotoran itu.”
Husen berbicara kalem. Ibunya tertegun mendengarkan.
“Sering-seringlah Ibu memejamkan mata. Maka kotornya dunia akan lenyap. Sering-seringlah Ibu mengacuhkan dunia, akan lenyap gemerlapnya yang menyilaukan itu. Dan cahaya di akhirat yang bahagia di sana adalah hakikat akan semakin nyata,” Husen berbisik di sisi ibunya. Dan terlihatlah ada cahaya yang berkelindan di ujung penglihatan mata batinnya.
Ucapan lembut Husen itu menyentuh hati ibunya. Perempuan itu pun menangis dan memeluk putranya yang tak pernah melihat gemerlapnya dunia. Ia kecupi kening putra semata wayangnya itu.
RS. Panti Nirmala. Rabu-8 Juli 2020.
