Cahya memang anak yang pandai. Hari ini adalah kelulusannya dari SD Gondang. SD satu-satunya di desanya. Dengan mendapatkan peringkat satu dari dua puluh delapan murid yang ada di SD itu, dia melanjutkan ke SMP di kecamatannya.
Setiap subuh dia tidak lupa untuk berdzikir, membaca al-Quran, dan salat dhuha sebelum berangkat ke sekolah. Kadang, jika ia sibuk membantu ibunya menyiapkan alat untuk merawat atau memanen tembakau, ia sempatkan untuk salat dhuha di sekolahnya. Setelah pulang sekolah, ia membantu ibunya untuk memanen tembakau di desa seberang.

Ketika tekadnya mulai kendur, ia membangkitkan gairah impian ayahnya dengan cara memadang tebing yang menjulang tinggi yang berbaris dari timur ke barat. Sejauh mata memandang, di atasnya tak ada matahari. Jika malam, pemandangan di langit hanya ada separo langit selatan, bintang-bintang hanya separo, bulan pun sering malas muncul, dan bersembunyi di balik bukit-bukit angkuh. Seandainya Cahya mampu, ingin saja ia robohkan bukit-bukit angkuh itu, bukit yang rakus menelan matahari sendirian.
***
Dengan perjuangan keras, ia mampu menjadi bintang kelas untuk semester ini di SMP Gondang. Tapi dirasanya masih belum maksimal, karena ia ingin menjadi peringkat satu di SMP Gondang. Ia merasa belajarnya kurang keras, karena ia merasa sudah dianugerahi oleh Allah kecerdasan dan daya juang yang tinggi. Cuma, belum bisa mengoptimalkan waktu. Masih banyak waktu yang ia pakai tiap malam hanya untuk memandangi bukit. Beristirahat setelah membatu Ibu dan sebagainya.
Satu semester kemudian ia mencoba mengakrabi guru-guru mata pelajaran yang dirasanya sulit. Cahya mencoba menanyakan soal-soal yang tidak bisa dikerjakan ketika istirahat atau seusai bel pulang berbunyi. Syukurlah ia mulai merangkak menjadi peringkat atas di sekolahnya.
***
Siang ini setelah UAN berakhir, Pak Wicaksono, wali kelas Cahya, memanggilnya untuk menghadap. Cahya pun segera menghadap dan menuju ruang guru, namun Pak Wicaksono tak terlihat. Bu Amanda memberi tahu bahwa Pak Wicaksono sedang ada di BK, menunggu Cahya.
Langkah kecil namun cepat diayunkan oleh Cahya dari ruang guru menuju ruang BK. Langkah ini membuat Cahya tersengal-sengal saat sepatunya menginjak ruang BK. Napas itu terdengar oleh Pak Wicaksono.
“Selamat siang Cah, silakan masuk. Saya bersama Pak Ali sudah menunggumu. Silakan duduk.”
Cahya pun duduk di sebuah kursi, di depan meja dan menghadap Pak Wi dan Pak Ali. Percakapan hangat pun dimulai.
“Saya dengar kamu ingin menjadi seorang petani yang pandai, yang bisa mengubah masa depan desamu.”
“Benar Pak, saya ingin menjadi seorang yang pandai di bidang pertanian. Saya belajar keras selama ini ingin membuat masyarakat desa saya, yang hanya disinari matahari tiga bulan dalam setahun menjadi desa yang subur.”
“Kebetulan ini ada sebuah informasi, ada dua SMK yang menerima siswa berprestasi seperti kamu. Yag satu letaknya dekat sini, yaitu SMK N Gondang. Cuma, SMK ini baru dibuka dan fasilitasnya belum maksimum. Ada satu di Pasuruan, SMK N Purwosari. SMK ini sudah lama buka jurusan pertanian, laboratoriumnya lengkap, dan sudah bekerja sama dengan universitas-unversitas di Jawa Timur. Banyak siswa-siswa yang berprestasi seperti kamu yang masuk PTN tanpa tes. Jika kamu masih bisa mempertahankan prestasi seperti di sini, dan kamu berminat, saya akan membantu kamu dalam mendaftarkan.”
