“Saya harus bertanya dulu kepada ibu saya, Pak.”
“Ya, jawabanmu saya tunggu, semoga keputusanmu tepat.”

***
Ngaisah belum bisa memutuskan. Keinginannya hanya melihat senyum suaminya di wajah Cahya. Semua kenangan Jayadi melekat pada Cahya. Jika Cahya pergi jauh, ke Purwosari, maka kenangan itu akan hilang dan ia akan merindukan warisan satu-satunya yang berharga dari Jayadi.
Pandangan Ngaisah tetap ke arah tebing-tebing yang angkuh, yang kekar berdiri, yang rakus menelan cahaya matahari. Jika Cahya Mentari tetap sekolah di dekat sini, maka ia sulit untuk berkembang, tapi jika jauh, apa Ngaisah mampu menahan gempuran kangen kepada anak semata wayangnya. Napas ditariknya panjang dan dilepaskan secara perlahan.
“Bagaimana menurut Ibu? Apa sebaiknya aku merantau jauh menimba ilmu di sana?”
“Mungkin iya, anakku. Jika kamu hanya di sini saja ilmu yang kamu peroleh tidak sebanyak jika kamu merantau ke luar kota.” Kata-kata ini sebenarnya menggambarkan kondisi sebaliknya dari isi hati Ngaisah.
“Ibu bisa menjaga diri, kan? Aku khawatir jika aku tidak ada di sini, ibu akan terlalu capai bekerja karena tidak ada yang membatu.”
“Ibu akan beristirahat jika merasa lelah. Ibu tak akan bekerja sekeras kemarin-kemarin, karena sekarang kamu kan sudah mendapatkan sekolah gratis. Tenangkan pikiranmu tentangku. Sekarang cuma kamu satu-satunya anak yang akan mengubah kodisi kemiskinan di desa Gondang ini.”
***
Di bulan Ramadan ini, Caya berangkat. Suara deru bus datang sambil membawa puluhan mimpi anak-anak menuju Purwosari. Bus itu menjemput Cahya Mentari, satu-satunya anak Gondang yang terpilih. Cahya Mentari pun salaman dan mencium semua tangan guru, dan yang terakhir ia mencium mesra tangan Ngaisah, ibu tercintanya. Seakan Ngaisah enggan melepaskan genggaman tangan Cahya Mentari. Semakin lama semakin erat tangan itu menggenggam jemari Cahya Mentari.
“Nak, jika kamu rindu aku, kamu bisa menelepon Pak De Mul. Kemarin, aku sudah pesan kepadanya. Nanti jika upah ibu memanen tembakau sisa, aku kirimkan uang untuk kamu beli HP. Biar aku bisa telepon atau SMS kamu Nak. Jangan lupa salat, ngaji, dan berdoa. Semoga kamu menjadi anak sukses ya, doa ibu selalu menyertaimu.”
Cahya hanya mengangguk. Ucapan itulah yang terakhir di dengar Cahya untuk beberapa minggu ke depan. Karena mulai kini, sampai bulan depan, Cahya akan disibukkan dengan kegiatan memilih asrama, mendaftar ulang, belanja kebutuhan sehari-hari, MOS, dan tetek bengek lainnya.
