Caligula

Kebetulan, kemarin saya menonton film lama yang sungguh sangat “mengerikan”, Caligula. Film yang dirilis pada 1979 ini mengisahkan “kegilaan yang sempurna” Kaisar Romawi, Caligula. Hidup sekitar dua ribu tahun yang lalu, namun dalam versinya yang berbeda, ia seperti tak mati-mati. Selalu membayang pada para penguasa masa kini.

Dari sisi sinematografi, Caligula merupakan film yang brutal dan sangat-sangat erotis —bahkan bisa dibilang mendekati porno. Sepanjang film yang berdurasi 2 jam 36 menit ini kita disuguhi begitu banyak adegan brutal pembunuhan demi pembunuhan dengan telanjang. Juga adegan seks bebas dan parade alat kelamin yang sangat seronok. Begitu banyak pemeran pembantu yang tampil telanjang bulat dan beradegan seks bebas, baik yang berlawan jenis maupun sesama jenis —ditampilkan dari berbagai sudut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sang sutradara, Tinto Brass, mungkin tak bermaksud membuat film porno atau film sadis. Ia mungkin hanya ingin menghadirkan “kegilaan yang sempurna” Caligula dengan sempurna ke layar lebar. Kegilaan Caligula itulah yang tak mati-mati, hingga kini.

Ia terlahir dengan nama Gaius Julius Caesar Augustus Germanicus. Ia merupakan kaisar ketiga Romawi yang memerintah dari tahun 37 hingga 41 Masehi. Caligula adalah nama panggilannya. Nama panggilan itu berawal dari kebiasaannya mengekor sang ayah, Jenderal Germanicus. Sejak balita ia selalu mengikuti ayahnya dalam parade militer, lengkap dengan seragam kemiliteran Romawi. Caligula akhirnya dibuatkan seragam militer untuk balita, termasuk versi mini sepatu khusus militer Romawi yang disebut caligae. Ia pun kemudian dijuluki Caligula, yang berarti sepatu kecil. Adiknya, Julia Drusilla, selalu memanggilnya “Sepatu Kecil”. Akhirnya nama panggilan itulah yang lebih dikenal sejarah hingga kini.

Caligula terlahir sebagai cucu Kaisar Tiberius. Ia sangat berambisi menjadi kaisar seperti kakeknya. Sayangnya, Caligula tak berdarah biru. Sebab, status ayahnya yang mati secara misterius, Jenderal Germanicus, hanyalah anak angkat dari Tiberius. Sementara, Tiberius juga memiliki cucu lelaki, yang merupakan darah dagingnya namum belum cukup umur, yang kepadanyalah takhta akan diwariskan. Tak sabar untuk naik singgasana, Caligula bersekongkol dengan Marco, orang kepercayaan Tiberius, untuk membunuh sang kakek. Setelah Tiberius terbunuh, Caligula pun menjadi kaisar.

Pada masa-masa awal kekaisarannya, Caligula yang naik takhta di usia 25 tahun itu segera memperoleh simpati dari publik. Sebab ia gemar menyenangkan hati rakyatnya, yang jika dilihat dari kacamata hari ini, program-programnya tergolong populis. Tentara diberi banyak bonus. Pajak-pajak yang mencekik leher dihapus, dan para tahanan politik dibebaskan. Namun “kebaikan” Caligula hanya seumur jagung. Segera ia menjadi penguasa lalim. Para pesaing dan lawan-lawan politiknya, yang berpotensi mengganggu kekuasaannya, segera dihabisi. Korban pertama adalah Marco, yang ia suruh membunuh Tiberius. Korban selanjutnya adalah sang pewaris takhta yang sah, Tiberius Gemellus.

Setelah para pesaing dan lawan politiknya habis, Caligula memerintah secara ugal-ugalan. Ia kuras kas negara untuk biaya melanggengkan kekuasaannya, untuk menyuap siapa saja yang perlu disuap, untuk pesta pora, termasuk pesta seks bebas. Bahkan untuk membiayai perang yang tidak pernah dilakukannya.

Suatu waktu, Caligula memimpin pasukannya untuk menyeberang lautan guna menyerang Inggris. Namun, ia bersama pasukannya hanya sampai rawa-rawa, dan tidak pernah menyeberang ke Inggris. Bahkan, mereka tidak tahu letak Inggris di mana. Ketika yang terbentang di depan mata hanyalah hamparan tanaman papirus, Caligula tetap menitahkan pasukannya untuk menyerbu. “Saya butuh bukti kemenangan dalam perang,” katanya.

Akhirnya pasukan Caligula pulang membawa bergebok-gebok tanaman papilus sebagai bukti kemenangan perang. Bukti kemenangan perang palsu itu dipamerkan dalam sidang senat, dan dengan itu Caligula mendaku dirinya sebagai pemenang perang, pemimpin besar, yang lebih hebat dari kaisar-kaisar sebelumnya. Bahkan, dalam sidang senat itu, Caligula mendaku dirinya sebagai dewa atau tuhan. Tak ada yang berani bersuara ketika seekor kuda kesayangannya pun dijadikan pejabat tinggi negara. “Akulah tuhan!” katanya.

Akhirnya Romawi pun bangkrut. Kas negara kosong. Tapi situasi itu tidak membuat Caligula sadar. Justru semakin gila. Ia tak mau berutang. Ia mau merampas korporasi-korporasi besar, milik siapa saja, untuk dikuasai negara, dikuasai dirinya. Seperti nasionalisasi hari ini tapi tanpa konsesi. Tidak cukup, Caligula sudah benar-benar gila! Ia menggelar bazar seks di paviliun kekaisaran. Tidak tanggung-tanggung, yang ia jual dalam bazar seks tersebut adalah para istri anggota senat, yang memang cantik-cantik. Dari merampas korporasi-korporasi besar milik rakyatnya dan menjual istri-istri anggota senat itulah Caligula mengumpulkan uang untuk membiayai kekuasaannya.

Para pejabat tinggi kekaisaran akhirnya muak dengan situasi itu. Mereka menganggap kaisarnya sudah benar-benar gila. Mereka kemudian bersekongkol untuk membunuh Caligula. Persekongkolan itu dipimpin Cassius Chaerea, pengawal pribadi kaisar. Pada 24 Januari 41 M, Caligula dibunuh secara brutal oleh pasukannya sendiri.

“Aku tidak akan mati,” kata Caligula ketika Chaerea menusukkan belati ke perutnya untuk terakhir kalinya. Sepertinya Caligula memang tidak mati-mati. Ia adalah preseden. Siapa saja bisa meniru kegilaannya, sedikit banyak, dalam versinya yang berbeda, sampai dua ribu tahun kemudian.

Tinggalkan Balasan