Kebetulan, kemarin saya menonton film lama yang sungguh sangat “mengerikan”, Caligula. Film yang dirilis pada 1979 ini mengisahkan “kegilaan yang sempurna” Kaisar Romawi, Caligula. Hidup sekitar dua ribu tahun yang lalu, namun dalam versinya yang berbeda, ia seperti tak mati-mati. Selalu membayang pada para penguasa masa kini.
Dari sisi sinematografi, Caligula merupakan film yang brutal dan sangat-sangat erotis —bahkan bisa dibilang mendekati porno. Sepanjang film yang berdurasi 2 jam 36 menit ini kita disuguhi begitu banyak adegan brutal pembunuhan demi pembunuhan dengan telanjang. Juga adegan seks bebas dan parade alat kelamin yang sangat seronok. Begitu banyak pemeran pembantu yang tampil telanjang bulat dan beradegan seks bebas, baik yang berlawan jenis maupun sesama jenis —ditampilkan dari berbagai sudut.

Sang sutradara, Tinto Brass, mungkin tak bermaksud membuat film porno atau film sadis. Ia mungkin hanya ingin menghadirkan “kegilaan yang sempurna” Caligula dengan sempurna ke layar lebar. Kegilaan Caligula itulah yang tak mati-mati, hingga kini.
Ia terlahir dengan nama Gaius Julius Caesar Augustus Germanicus. Ia merupakan kaisar ketiga Romawi yang memerintah dari tahun 37 hingga 41 Masehi. Caligula adalah nama panggilannya. Nama panggilan itu berawal dari kebiasaannya mengekor sang ayah, Jenderal Germanicus. Sejak balita ia selalu mengikuti ayahnya dalam parade militer, lengkap dengan seragam kemiliteran Romawi. Caligula akhirnya dibuatkan seragam militer untuk balita, termasuk versi mini sepatu khusus militer Romawi yang disebut caligae. Ia pun kemudian dijuluki Caligula, yang berarti sepatu kecil. Adiknya, Julia Drusilla, selalu memanggilnya “Sepatu Kecil”. Akhirnya nama panggilan itulah yang lebih dikenal sejarah hingga kini.
Caligula terlahir sebagai cucu Kaisar Tiberius. Ia sangat berambisi menjadi kaisar seperti kakeknya. Sayangnya, Caligula tak berdarah biru. Sebab, status ayahnya yang mati secara misterius, Jenderal Germanicus, hanyalah anak angkat dari Tiberius. Sementara, Tiberius juga memiliki cucu lelaki, yang merupakan darah dagingnya namum belum cukup umur, yang kepadanyalah takhta akan diwariskan. Tak sabar untuk naik singgasana, Caligula bersekongkol dengan Marco, orang kepercayaan Tiberius, untuk membunuh sang kakek. Setelah Tiberius terbunuh, Caligula pun menjadi kaisar.
