Cara Gus Mus Melihat Diri Sendiri

Jadi, seorang pimpinan lembaga mempunyai cara sendiri untuk memberikan sanksi edukatif terhadap seorang santri. Dengan demikian, bukan tidak mungkin kakak Gus Mus merasakan penyesalan yang mendalam yang kemudian semakin giat dan peduli terhadap kewajiban belajar.

Dalam buku ini (hal. 25), Gus Mus juga mengisahkan tentang Mbah Dullah yang mempunyai perhatian lebih terhadap masyarakat sekitar. Saking berlebihannya, hingga Mbah Dullah tidak peduli terhadap dirinya sendiri. Hingga pada suatu waktu, Gus Mus mengajukan pertanyaan bagaimana caranya menolak undangan masyarakat yang sangat bajibun. Mbah Dullah menjawab, “Tetapkan tarif yang sangat tinggi, niscaya mereka tidak akan lagi mengundangmu.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun, untuk melakukan saran tersebut, Gus Mus merasa tidak mungkin. Karena Mbah Dullah bukan A Mustofa Bisri, “Berbeda dengan Mbah Dullah yang sudah tidak peduli dengan penilaian orang, yang penting penilaian Allah,” begitu kata Gus Mus beralasan (hal. 25).

Ini pentingnya melihat diri sendiri dengan kemampuan dan pemahaman yang ada. Bukan kemudian merasa sanggup terhadap apa yang dilakukan orang lain, senyampang orang lain tersebut bisa niscaya tidak sama kedekatannya dengan kita, yaitu kedekatan kepada Allah.

Sementara pada esai lainya, Gus Mus menjelaskan hubungannya dengan makanan. Seringkali kita baca di berbagai media sosial, netizen yang mempersoalkan halal dan harammya suatu zat makanan. Sementara, mereka abai bagaiman makanan itu diperoleh. Apakah dengan cara halal (legal) atau sebaliknya, haram.

Dalam konteks ini, Gus Mus mengatakan, “Orang sibuk dengan hal haramnya makanan, tetapi tidak mempedulikan halal haramnya cara mendapatkan makanan itu sendiri” (hal. 65).

Itu artinya bahwa kita harus sama-sama mawas diri terhadap segala persoalan demi terciptanya kedamaian. Baik kedamaina yang bersifat ilahiyah (terkait ibadah) maupun kedamaian terkait dengan kehidupan sosial (komunikasi dalam kehidupan). Jika hal ini telah menjadi kebiasaan, maka kehidupan yang tentram dan damai akan kita jalani hingga akhir kehidupan.

Berikutnya yang sempat menjadi catatan saya adalah tentang niat dalam melakukan suatu perbuatan. Dalam hal ibadah, niat menjadi legalitas agar ibadah yang kita kerjakan bernilai maqbul di sisi Allah.

Dalam hal ini, Gus Mus memberikan contoh sederhana dengan mengatakan, “Membaca al-Quran dengan niat mendapat piala, tentu tidak sama dengan niat mendapat pahala.” Lebih jelas dapat dibaca dalam buku ini dengan judul “Taat, Ibadah, dan Taqarrub” (hal. 72).

Sebenarnya masih banyak lagi esai A Mustofa Bisri yang dapat dibaca di dalam buku ini. Terkait dengan berbagai aspek kehidupan. Berkenaan dengan topik keseharian. Sehingga, bagi pembacanya, buku ini akan menambah khazanah pengetahuan terapan yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Baik kehidupan secafa vertikal maupun sosial horizontal kemasyarakatan.

Buku ini benar-benar recomended untuk dijadikan refrensi pengetahuan. Sebab, selain pembahasannya yang sangat jelas, bahasa yang digunakan pun sangat indah dan mudah dipahami. Oleh sebab itu, memiliki buku ini sangat direkomendasikan baik sebagai pribadi maupun untuk perpustakaan di lembaga pendidikan.

Tinggalkan Balasan