Catatan Bedah Buku Sastra Pesantren

Lebih jauh, Juwairiyah Mawardi mengatakan bahwa santri secara fisik memang seakan-akan “terpenjara”. Namun secara mental, imajinasi, mereka bebas menjelajah ke relung antah berantah kehidupan. “Secara fisik santri Annuqayah terkekang dan terpenjara. Namun imajinasi mereka bebas berkeliaran ke mana-mana,“ jelas Juhairiyah dengan semangat meskipun kegiatan ini ditimpa rintik hujan malam.

Tetapi, masih menurut perempuan yang banyak menjadi mentor kepenulisan di berbagai grup literasi, yang nampak terlihat dari buku Raedhu Basha ini adalah santri laki-laki. Sedangkan, santri perempuan yang nyastra belum terekspos, yang kemungkinan disebabkan sulitnya akses ke lingkungan pesantren putri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sementara itu, KM Faizi, pembedah buku kedua, yang merupakan Pengsuh PP Annuqayah daerah Alfurqan, memberikan beberapa pandangan terkait buku Sastrawan Santri ini. Dalam pemaparannya, kiai yang sastrawan ini menjelaskan bahwa ada beberapa catatan dari buku ilmiah ini. Ada catatan baik, meragukan, dan kesalahan.

“Setelah saya baca, ada beberapa catatan yang perlu saya berikan, baik berupa catatan shohih (baik), meragukan, dan kekeliruan,” kata kiai yang selalu tampil bersarung dan berkopyah ini. Ia juga memberikan beberapa contoh dari ketiga catatan yang dimaksud.

Selanjutnya, KM Faizi melihat dari aspek keilmiahan. Menurutnya, buku Sastrawan Santri ini masuk dalam kategori karya sastra ilmiah. Sebuah karya cipta buku yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Dan memang, buku ini lahir dari sebuah tesis, sehingga nilai akademik dan ilmiahnya benar-benar terlihat. Apalagi, buku ini ditulis dengan teknis penelitian dengan banyak lampiran untuk mendukung akurasi dan validitas sebuah karya.

Tinggalkan Balasan