“Celurit Emas” yang Mengasah Ketajaman Jiwa

Amin!

(Dari buku kumpulan puisi D. Zawawi Imron, Kumpulan Puisi Celurit Emas, 2012, Said Abdullah Institute, Sumenep)

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Secara sintaksis celurit adalah senjata tajam (sajam) orang Madura dengan berbagai kebutuhan. Umumya, celurit (are’) digunakan untuk menyabit rumput (sabit), meribas daun-daunan, atau memotong dahan dan ranting. Tersebab oleh alat yang bersifat tajam, maka kemudian celurit ini digunakan sebagai senjata, dan bahkan sebagai simbol kejantanan oleh sebagian masyarakat Madura.

Namun, seperti yang diungkapkan oleh pencipta puisi ini, D Zawawi Imron yang dijuluki Si Celurit Emas, di dalam sebuah “anjangsana“; Proses Kreatif D Zawawi Imron disampaikan pada pembacaan sajak-sajak Celurit Emas, pada tanggal 22 November 1984, di Teater Arena Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di dalam anjangsana ini Zawawi mengatakan:

“Tetapi Celurit Emas bukan lambang kejantanan. Celurit senjata tradisional Madura itu sudah saya hancurkan, saya lebur dalam kawah religiusitas dan spiritual saya, lalu saya campurkan dengan tangis orang-orang terhina, saya luluhkan dengan jiwa dan darah para pahlawan dan berjuta kasus kemanusiaan lainnya sehingga menjelmalah dari celurit (itu) kebijaksanaan.”

Celurit dengan simbol kejantanan bagi masyarakat Madura telah hancur. Tepatnya dihancurkan oleh D Zawawi Imron. Sekarang, celurit itu telah bersatu padu dengan rakyat jelata, mencoba menangkis kemiskinan, dan berusaha untuk lebur bersama jiwa dan darah para pahlawan. Selanjutnya, Zawawi mengatakan:

“Kalau Celurit Emas itu dihantamkan kepada orang yang benar, jangankan terluka merasa sakit pun tidak. Tapi kalau terhadap pengkhianat, pemeras, penindas, penghisab, dan sebangsanya, maka Celurit Emas itu akan terbang tanpa disuruh, dan ia akan menyelesaikan persoalan sesuai dengan hakikat kebenaran. Ia dirindukan orang-orang sebagaimana orang-orang Kristen merindukan kembali Kristus.”

Jadi, Celurit Emas yang dimaksud adalah sebuah pelambang, simbol dari “hakikat kebenaran”. Benar saja, bahwa celurit —senjata orang Madura— ini telah hancur, lenyap, dan tiada membekas. Arti harfiah (mimesis), visual fisik dari celurit telah musnah, dalam arti sebagai lagak kejantanan, dan atau untuk melukai orang lain.

Memakna-tafsirkan sebuah puisi diperlukan imajinasi yang komprehensif, menyeluruh, dan referensif sekalipun hanya dengan cara membaca ulang puisi yang akan kita “bahasakan”. Hal ini akan membentuk sebuah kepaduan makna, sekaligus bentuk pemaparan asosiasi yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai sebuah nilai karya sastra.

Seperti yang dijelaskan oleh Prof Dr Suminto A Sayuti, di dalam bukunya Berkenalan dengan Puisi, terbitan Gema Media 2008, bahwa bahasa puisi digolongkan menjadi: 1) ekspresif, yaitu tepat (mampu) memberikan (mengungkapkan) gambaran, maksud, gagasan, perasaan; 2) asosiatif, yaitu tautan di dalam batang tubuh puisi, baik secara intrinsik maupun ekstrinsik; 3) simbolik, yaitu sebagai pelambang atas makna konotatif yang relevan; 4) magis, yaitu adanya kekuatan makna puitika yang bersifat ghaib, di luar jangkauan logika ilmiah.

Pada puisi Celurit Emas, Zawawi telah merangkum formula bahasa puisi yang mencakup keseluruhan aspek tersebut. Maka, jabaran puisi ini akan erat terikat dengan makna pelambang, makna kias, makna metafor, dan makna personifikatif.

“Celurit” sebagai Sosok Mufti

Sebagai seseorang yang punya kharismatik tinggi, ini tercermin dari kalimat: “Roh-roh bebunga yang layu sebelum semerbak itu/ Mengadu ke hadapan celurit yang ditempa dari/ Jiwa. Celurit hanya mampu berdiam, tapi/ Ketika…”  Kalimat “mengadu ke hadapan celurit” secara mimesis begitu nampak bahwa “celurit” itu adalah sosok yang diharapkan mampu memberikan solusi. Sebuah pelambang atas orang yang didengar nasihatnya, bisa seorang ulama, ustadz (guru), pendeta, biksu, atau bahkan “orang pintar” sekalipun.

“Roh-roh bebunga yang layu sebelum semerbak itu”, kalimat ini mencerminkan orang-orang yang kalah, “layu sebelum semerbak.” Biasanya, bunga akan memancarkan harum yang semerbak, jika bunga itu sampai pada tujuan hidupnya. Namun, pada puisi ini bunga itu layu sebelum mampu memberikan harapan keindahan dan suasana yang mengesankan. Orang-orang yang tersingkirkan, terpinggirkan, orang-orang miskin, rakyat jelata, dan yang bersenandung dengan air mata.

Sebagai mufti, orang yang bisa memberikan harapan hidup yang lebih baik, “celurit yang ditempa dari/ Jiwa.” Sebuah bentuk kalimat puisi dengan formulasi enjajemen, yaitu kata/frase yang ditempatkan pada baris berikutnya, padahal masih ada kaitannya dengan kalimat sebelumnya. “Jiwa” adalah kelanjutan dari kalimat di atasnya, tetapi juga dapat dijadikan sebagai penjelas untuk kata berikutnya. “(Jiwa) Celurit itu hanya mampu berdiam.” Jiwa Celurit, atau celurit yang punya jiwa, berarti ada hakikat kehidupan yang menancap di sana. Sehingga celurit itu bukan sekadar celurit, tetapi “Celurit Emas” sebagai hakikat kebijaksanaan.

Diamnya “celurit” bukan karena ia tidak bisa berbuat. Namun, diam dimaksudkan sebagai bentuk jiwa yang “mawas”, kerendahhatian, dan tidak congkak atau sombong. “Diam” juga dimaksudkan untuk meditasi, berpikir sebelum mengambil langkah. Dalam hal ini, saya teringat dengan kaidah Arab, tafakkar qabla an tatakallam, berpikir sebelum bercakap (bertindak).

Tinggalkan Balasan