“Celurit Emas” yang Mengasah Ketajaman Jiwa

Pada kalimat berikutnya, “celurit” sadar bahwa dirinya diperlukan untuk sebuah “perjuangan”. Kalimat: “Ketika tercium bau tangan/ Yang/ Pura-pura mati dalam terang/ Dan/ Bergila dalam gelap”, selanjutnya, di dalam kalimat ini celurit mengendus bau tangan. Yaitu tangan-tangan yang kotor. Tangan yang diliputi oleh kekejian, korupsi, kolusi, dan nepotisme. Ini juga yang digambarkan oleh Zawawi, “yang pura-pura mati dalam terang,” yaitu orang yang mempunyai sikap hipokrit dan munafik. Ya, orang yang pura-pura lapar padahal kenyang. Orang yang pura-pura alim padahal pecundang. Na’udzu billah!

“Dan bergila dalam gelap,” jelas ini adalah perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kalau dalam bahasa K Zainuddin MZ, “menggunting dalam lipatan, sikut kanan sikat kiri,” untuk kepentingan diri sendiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Si “Celurit” tahu apa yang harus ia lakukan. Sadar bahwa di hadapannya ada banyak persoalan yang harus dihadapi. Maka: “Ia jadi mengerti: wangi yang menunggunya di seberang/ Meski ia menyesal namun gelombang masih/ Ditolak singgah ke dalam dirinya.” bait ini menjadi penanda bahwa “celurit” tidak akan tinggal diam. Meski ia sedikit menyesal, karena tidak segera bertindak. Namun ia bangga untuk “wangi” yang menunggu.

“Wangi” adalah lambang kejayaan, kemakmuran, keindahan, dan lain sebagainya. Jika perjuangan terus ditegakkan, tanpa mengenal rasa putus asa, maka ia akan menjumpai jiwa-jiwa yang merdeka dari penjajahan bangsanya sendiri, atau bahagia berjumpa dengan Tuhan sebagai “syahid”.  Isy kariman au mut syahidan, hidup mulia atau mati syahid.

Setelah terjadi perjuangan untuk kemerdekaan jiwa yang dibelenggu oleh air mata, maka terbitlah kejayaan itu meski harus ditebus dengan nyawa. “Nisan-nisan tak bernama bersenyuman, karena/ celurit itu akan menjadi taring langit, dan matahari/ Akan mengasahnya pada halaman-halaman/ Kitab suci.” Nisan tanpa ada nama biasa terjadi di desa-desa. Perjuangan yang tidak harus dirayakan dengan gempita. Mereka “nisan-nisan” itu berkorban tanpa pamrih. Tetapi mereka damai dalam senyum yang indah. Sebab “celurit” yang mengantarkan mereka ke tingkat Maha Cinta untuk berbuat yang terbaik. Celurit itu tetap berkibar sebagai “taring langit”, dan selalu awas terhadap persoalan rakyat jelata.

Celurit itu tetap ada dan selalu ada. Mati satu tumbuh seribu, ada generasi-generasi celurit yang akan menjadi penerus kejayaan dan kemenangan. Celurit tidak akan pernah mati, dan tidak akan pernah mati. Ia selalu jaga dalam setiap selewer waktu untuk memberantas kezaliman dan kelaliman.

“Celurit” adalah untuk siapa saja. Untuk orang-orang yang berada pada jalan kebenaran. Untuk orang-orang yang tersakiti. Untuk orang-orang yang cinta kedamaian. “Celurit itu punya siapa?” sebuah retorik D Zawawi Imron untuk mengatakan bahwa celurit itu milik semua orang. Semoga celurit tetap menjadi “taring langit” dan “terasah melalui kitab suci.”

Celurit sebagai Nilai Karakter

Sebenarnya “celurit” juga bisa diperlambangkan sebagai sebuah karakter. Karena, menurut Zawawi, Celurit Emas itu adalah hakikat kebenaran. Jika ia merupakan sebuah kebenaran, jiwa yang benar, karakter yang benar, maka celurit adalah sebuah karakter/sifat.

Sebagai karakter/siafat, “celurit” dapat dilambangkan sebagai sebuah ketegasan, tidak ada rasa takut (saja’ah) untuk sebuah kebenaran. Sifat, sikap, dan karakter ini akan menjadi milik siapa saja, mereka yang berkomitmen untuk membangun kemakmuran masyarakat. Dengan karakter “celurit”, siapa pun berhak untuk tampil membela yang benar, menuju kemenangan yang hakiki.

Penutup

Kumpulan Puisi Celurit Emas oleh D Zawawi Imron ini adalah buku puisi yang fenomenal. Tahun 1990, Celurit Emas dan Nenek Moyangku Air Mata mendapat penghargaan buku terbaik oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Ini —mungkin— yang juga membuat saya bergairah dan bersemangat untuk menulis ulasan sekilas ini.

Meski sangat tidak mudah, akhirnya saya bisa menyelesaikan naskah ini dengan segala kenaifannya. Hal ini saya maksudkan sebagai pembelajar untuk belajar menjadi orang terpelajar dan suka belajar. Memerlukan waktu, pikiran, dan usaha yang tidak gampang untuk menyelami apa di balik puisi D Zawawi Imron. Puncaknya pun tidak berarti bahwa naskah ini mencapai nilai kesempurnaan.

Celurit Emas paling tidak telah membawa saya pada sebuah realita kehidupan di Madura. Tempat saya lahir dan besar, tampat saya menempa diri dengan celurit (bukan emas). Celurit secara makna hakiki telah menjadi keseharian hidup saya untuk mencari bekal hidup dan kehidupan.

Celurit Emas (benar-benar pakai emas) bagi saya adalah sebuah simbol untuk tetap memiliki jiwa ketegasan dalam menata kehidupan melalui jalur kebenaran. Semoga tulisan ini memberikan wacana kearifan untuk tetap berbuat yang benar dan menyingkirkan yang tidak benar. Wallahu A’lam!

Tinggalkan Balasan