Ada seorang santri dari daerah Jawa Tengah yang bertanya: Apakah ketua atau pengurus jejaring duniasantri merupakan santri Al Hikam? Ketika saya jawab bukan, ia masih bertanya lagi: Kok bisa ulang tahun duniasantri diadakan di Al Hikam?
Nah, memang ada cerita menarik kenapa perayaan ulang (ultah) tahun ke-5 jejaring duniasantri dilaksanakan di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Hikam Depok, sebanyak cerita-cerita “menarik” dari balik layar yang kami tertawakan sendiri seusai layar ditutup.


Semula, kami merencanakan tempatnya di AdaKopi Original, kafe yang dikelola sastrawan Mahwi Air Tawar. Acaranya pun sekadar tumpengan, diskusi kecil, baca-baca puisi sendiri, ditutup dengan mendoakan diri sendiri.
Namun, mendekati akhir Juli, ada kabar kafenya tak bisa digunakan. Kami pun harus memutar otak, mencari-cari alternatif. Pilihannya kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, atau kafe lain sesuai kriteria (dompet), atau jika mungkin di pesantren. Beberapa nama pesantren muncul, salah satunya Al Hikam.
Maka, suatu sore, Cak Tarno mengajak saya sowan ke ndalem Gus Arif, yang tak lain KH Arif Zamhari, pengasuh Al Hikam. Kami diterima layaknya santrinya. Sebelum memasuki ndalem, saya sudah mewanti-wanti Cak Tarno agar soal rencana mau meminjam tempat jangan diungkap di awal. Yang penting silaturahmi, minta saran, minta doa. Sebab, ketika menghadap seorang kiai, yang pertama harus diminta adalah nasihat dan doa –setelahnya kita bisa minta apa saja.
Dan benar, memang itulah yang disampaikan Cak Tarno: meminta saran dan doa sehubungan jejaring duniasantri mau ultah. Tapi sepertinya Gus Arif memang waskita. Cak Tarno belum selesai berbicara, sudah dipotong oleh Gus Arif.
“Kalau mau diadakan di sini ya boleh. Tapi tempatnya ya seperti ini, seadanya,” kata Gus Arif sambil menunjuk selasar masjid.
Saya dan Cak Tarno terdiam kaget, saling berpandangan. “Oh ya Gus, terima kasih, kami rasa tempatnya cukup memadai, acaranya juga sederhana saja,” kata Cak Tarno.
Sejak itu, tempat acaranya sudah pasti. Yang belum pasti justru materi acaranya. Sebab, Kang Zastrouw rupanya sudah menyiapkan sejumlah musisi untuk tampil, di antaranya Abel dan Dima Miranda. Sementara, dari informasi yang dia terima, di Al Hikam tidak boleh ada musik. Jika itu benar, maka konsep acaranya bisa berubah total atau malah berantakan.
Saya kemudian menghubungi seorang ustaz, yang kebetulan namanya juga Arif, yang oleh Gus Arif ditunjuk sebagai titik simpul koordinasi teknis acara. Kepada Ustaz Arif, saya bertanya apakah dimungkinkan di acara ultah di selasar masjid itu, ada yang memainkan satu-dua alat musik sekadar untuk mengiringi pembacaan puisi atau musikalisasi puisi. Bukan bermain band atau dangdutan!
“Oh, kalau alat musiknya kurang, di pondok ada satu, organ, tapi tak ada santri yang bisa main. Tak pernah dipakai. Kalau mau dipakai monggo,” jawab Ustaz Arif.
Selamet. Wajah Kang Zastrouw sumringah mendengar jawaban dari Ustaz Arif itu. Maka, materi acaranya dirancang secara matang. Para penampil pun mulai latihan.
