“Saya ingat kalau harus menghadiri undangan, tapi saya lupa siapa yang mengundang,” cerita Gus Alec ketika akhirnya saya menyambut kedatangannya. Mungkin hari itu Gus Alec kelelahan karena sepanjang hari harus melakukan wawancara untuk kepentingan disertasi program doktornya. Beruntung Cak Tarno mengirim pesan melalui WhatsApp, sehingga Gus Alec ingat siapa yang mengundangnya.
Cerita itu, seperti ceritanya Kang Zastrouw, juga membuat tawa kami meledak ketika saya tumpahkan di meja warkop pancong. “Bayangkan, dia lupa siapa yang mengundang,” ujar Dahris Siregar tak bisa menahan tawa. Dahris merupakan salah satu Dewan Juri Lomba Penulisan “Ekologi Kaum Santri” yang ikut begadang di warkop pancong.

Inilah bagian yang harus mengubah jalannya acara. Gus Alec dipersilakan memimpin pembacaan surat Al-Fatikhah dan doa yang ditujukan kepada KH Hasyim Muzadi dan Bisri Effendy. Rupanya, justru Gus Alec memimpin tahlil panjang, mungkin durasinya lebih dari 30 menit. Kami saling celingukan, tapi Gus Alec khusyuk memimpin tahlil.
Saya sempat cemas, tapi segera menenangkan diri. Malah pasrah. Mungkin, pikir saya, karena yang dikirimi Al-Fatikhah adalah Kiai Hasyim Muzadi, maka tahlil yang dibacanya harus lengkap, tidak berani memotong pendek.
Tapi kecemasan muncul lagi ketika, setelah pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh Dr Ahmad Suaedy, grup hadrah dari santri Al Hikam juga tampil dengan durasi yang lebih panjang. Padahal, kami cuma diberi waktu dua jam, dari pukul 20.00 sampai 22.00.
“Harus ada yang menjadi time keeper!” pesan singkat Kang Zastrouw menggetarkan handphone saya. Di tengah acara berlangsung, saya mendekati Gus Arif, mohon maaf meminta tambahan sedikit waktu. Plong, diizinkan, tapi cuma 30 menit. Artinya, banyak penampilan yang harus dipotong atau dibatalkan.
Akhirnya, Dima Miranda hanya bisa membawakan tiga dari tujuh lagu yang disiapkan, dan duetnya dengan Kang Zastrouw dibatalkan. Beberapa penampil lain juga urung tampil. Ketika duo musisi Umam & Deri tampil, saya membisiki Mahwi: masih berapa penampil lagi? Masih ada dua atau tiga, pembacaan puisi dan cerpen.
“Kalau diteruskan, pasti akan antiklimak!” Ahmad Suroyo, yang sedianya akan membacakan puisinya WS Rendra, pun menyergah.
Saya akhirnya meminta Mahwi untuk “memaksa” pembawa acara membacakan ini: “Dengan berakhirnya penampilan Umam & Deri, maka berakhir sudah acara Malam Apresiasi Budaya…”
Begitulah akhirnya acara terlihat berlangsung mulus, bagus, dan cukup sukses. Tapi tetap menyisakan wajah-wajah kecewa, kurang puas, karena tak semua penampil bisa tampil. Seperti wajahnya Gilang Sulaeman yang urung membaca cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari.
Usai acara, saya mengajak panitia dan para penampil meriung di warkop pancong. Tentu saja Mahwi bersungut-sungut menagih janji: “Katanya mau leha-leha ke kafe yang luksuri, kok jadi ke warkop pancong?!”
Tapi di sanalah akhirnya kami bisa menertawakan hal-hal ketidaksempurnaan kami.
