Cerita dari Balik Layar

Penanggung jawabnya adalah Mahwi Air Tawar. Mahwi sebenarnya tidak tercatat sebagai pengurus jejaring duniasantri. Tapi, karena sastrawan asal Madura yang berlatar belakang santri itu menjadi orang yang paling ngotot agar jejaring duniasantri mengadakan perayaan ultah, maka dia kami tunjuk sebagai penanggung jawabnya. Ia cuma dibantu 3-4 orang. Tapi ia sering bekerja sendirian, dalam kesepian.

Bahkan, saat harus menyelesaikan ini-itu, Mahwi masih sering dihantui masalah dana. Karena secara resmi tak dibentuk panitia, maka tak ada yang diberi tugas mencari sponsor. Tugas saya pun hanya membesarkan hatinya: “Tenang saja Pak Mahwi, pada last minute biasanya akan ada…”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Makam Kiai Hasyim

Apa yang tergelar di panggung Malam Apresiasi Budaya pada 17 Agustus 2024 itulah hasil kerja kami dalam serba keterbatasan itu. Terlihat cukup bagus dan sukses. Tapi sesungguhnya tidak benar-benar seperti itu acara yang kami rancang. Cerita-cerita “menarik” sudah mulai muncul sebelum acara dimulai.

Sabtu malam itu, sesuai salat isya berjamaah di masjid sebelum acara dimulai, kami dijamu makan malam oleh Gus Arif. Turun dari masjid menuju ndalem Gus Arif, saya berjalan berdua bersama Kang Zastrouw melintasi lapangan.

“Di sana sebenarnya lebih pas buat panggung acara kita,” kata Kang Zastrouw menunjuk sebuah tempat. Saya cuma menjawab pendek, “Ya.” Toh panggung sudah jadi dan acara siap digelar.

Yang ditunjuk Kang Zastrouw adalah sebuah bangunan terbuka di seberang lapangan. Dalam suasana malam hari, bangunan terbuka itu terlihat menyisih-menyendiri dilingkupi keteduhan dan kesyahduan. Bangunan itu sepertinya benar-benar menyedot perhatiannya.

Mungkin tak puas dengan jawaban pendek saya “Ya” tadi, sehabis makan malam ketika berjalan ke tempat acara melewati lapangan yang sama, Kang Zastrouw bertanya untuk kedua kalinya.

“Kenapa bukan di tempat itu saja kita bikin panggung? Cocok tempatnya,” kata Kang Zastrouw menunjuk tempat yang tadi sudah dia tunjuk.

Akhirnya saya memberikan jawaban yang diperlukan, “Ya memang cocok. Tapi itu makamnya Kiai Hasyim Muzadi.” Kang Zastrouw langsung terenyak, “Waduh!” Cerita ini membuat tawa kami meledak ketika beberapa saat usai acara saya tumpahkan di meja warkop pancong.

Warkop Pancong

Sepertinya Malam Apresiasi Budaya akan berjalan sesuai rencana sampai sesi orasi budaya oleh Kang Zastrouw berlangsung. Tapi pengaturan acara mulai harus berubah ketika KH Ahmad Solechan memimpin tahlil dengan durasi yang begitu panjang, jauh melampaui waktu yang ditetapkan.

Gus Alec, panggilan KH Ahmad Solechan, seorang yang kami tunggu-tunggu kedatangannya menjelang acara dimulai. Sebab, Ketua PCNU Depok tersebut akan memimpin pembacaan Al-Fatikhah dan doa. Namun, ketika kami dalam cemas menunggu, rupanya Gus Alec sedang duduk termenung di rumahnya memikirkan sesuatu.

Tinggalkan Balasan