Cerita dari Pesantren (2): Ketika Santri Bersekongkol

“La a’rif, ustadzah…,” Sinta yang duduk di sampingku terdengar takut menjawab dengan bahasa Arab. Anak kecil seperti kami baru bisa menggunakan beberapa kata saja dalam bahasa yang sering kami dengar digunakan mbak santri. Hanya na’am, la, la a’rif, limadza, atau aina, selain itu kami tidak tahu. Ustadzah lebih sering mengajak kami berbicara dengan bahasa Indonesia.

“Di…?” kalau Sinta terdengar takut, saya lebih takut dan bahkan tak mengeluarkan suara sama sekali ketika ditanya. Saya hanya menggelengkan kepala meskipun sebenarnya saya tahu keberadaan Sarifah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Siang tadi usai sekolah saya melihatnya berbelok ke arah gang perkampungan bersama salah satu teman yang rumahnya berada di kampung sebelah pondok. Dia terlihat mengangkat telunjuknya ke depan mulut ketika sampai di jalan sempit menuju perkampungan, menyuruh saya untuk menutup mulut. Saya menoleh ke kanan kiri memastikan ada orang lain yang melihatnya, tetapi nihil. Meski kami pulang bergerombol dari arah madrasah yang sama, rupanya hanya saya yang kebetulan memperhatikannya.

“Kalau tidak ada yang tahu Sarifah di mana, besok semuanya ustadzah berdirikan di lapangan!”

Kami masih bungkam. Sampai malam menjelang tidur kami semua masih saling melempar pertanyaan satu sama lain menanyakan keberadaannya. Badi mendekati saya sambil membopong bantal dan selimutnya hendak mapan tidur.

“Tadi kamu lihat Sarifah, kan?” dia berbisik pelan.

“Berarti kamu lihat juga?”

Seperti Sarifah siang tadi, Badi juga memberi isyarat agar saya diam dan tidak mengatakan apa-apa.
Hari berikutnya kami semua satu kamar mendapatkan hukuman berdiri di tengah lapangan karena Sarifah diketahui menginap di rumah salah satu teman kampung dan kami dianggap bersekongkol merahasiakannya. Hukuman diberikan bukan karena ustadzah kami tega kepada anak kecil, tetapi beliau mengajari bagaimana seharusnya menjaga sikap sebagai seorang santri agar tidak sembarangan keluyuran, sebab kami telah menjadi tanggung jawabnya. Lagi-lagi, kami hanya anak-anak dan hal yang dilarang adalah favorit kami.

Tinggalkan Balasan