Cerita dari Pesantren (2): Ketika Santri Bersekongkol

Di lain waktu, ketika mengaji al-Quran, kami dihadapkan dengan tangisan salah satu teman yang sulit sekali mengucapkan makharijul huruf “ha”. Sore itu kami sudah berbaris rapi di belakangnya untuk mengantre mengaji berikutnya. Namanya Aini, santri kelas dua Madrasah Ibtidaiyah. Sudah dua minggu ini dia diminta untuk berlatih melafalkan huruf “ha” dengan fasih dan bersih tanpa terdengar suara ngorok sama sekali. Sekali waktu berlatih di depan kami dia berhasil, tetapi berkali-kali disetorkan di hadapan ustadzah, entah kenapa, selalu terdengar seperti ada yang menyangkut di tenggorokannya.

Terhitung sudah sepuluh kali lebih ustadzah menyuruhnya melafalkan “Arrahmanirrahim”, tapi yang keluar selalu “Arrakhmanirrakhim”. Ustadzah sampai meremas-remas lengannya karena gemas; kenapa sulit sekali untuk melafalkannya dengan bersih.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kami di belakangnya menanggapi dengan berbagai reaksi. Ada yang cekikikan menahan tawa; ada yang semakin tegang bagaimana kalau gilirannya tiba dan mengajinya sama seperti Aini.

“Huaaaaaaa…..,” entah bagaimana mulanya, tiba-tiba Aini berbalik dan ekspresi wajah gembeng-nya dihadapkan ke kami, kemudian suara tangisnya pecah. Ustadzah hanya menggelengkan kepala, sama sekali tak risau.

Ia tetap dengan wajah galaknya sepanjang mengajari kami melafalkan makharijul huruf dengan fushah, meskipun satu per satu dari kami dibuatnya menangis sesenggukan. Bukan karena kami tak bisa, tapi takut setiap berhadapan langsung dengan wajah garang ustadzah yang membuat konsentrasi kami pecah dan persiapan setoran kami buyar seketika. Kalau sudah menangis, kami hanya bisa saling menepuk atau merangkul pundak satu sama lain untuk saling menenangkan.

Saya selalu teringat, bahkan teman seangkatan yang masih bertahan di pesantren hingga tamat pengabdian pun, ketika kembali mengenang masa kecil bersama, kami tertawa terbahak-bahak mengingatnya.

Kala itu ustadzah yang mengajari kami sudah banyak yang boyong dan menyisakan kami anak-anak ingusan yang sudah tumbuh menjadi remaja putri, bukan santri cilik lagi. Wajah galaknya sungguh sebuah mantra yang menjadikan kami bisa membaca al-Quran dengan fasih huruf per hurufnya.

Tinggalkan Balasan