“Lo..lo..ini bocah dari tadi nguping, ya? Mau beli apa mau nguping?” Ibu pemilik toko yang sadar dari tadi diperhatikan.
“Anu bu…, mau beli kuping. Eh, mau beli hand body yang tiga ribuan,” sahut Putri yang kaget karena kepergok menguping bersama tiga kawanan yakuzanya.

“La itu Bune, kebetulan ada anak sekolah. Coba tanyakan sekolah itu penting apa tidak, melanjutkan kulah itu perlu atau tidak? Piye, rek! Penting apa tidak?” tanya suami tadi kepada empat sekawan.
Bocah empat itu plonga-plongo, kaget dengan pertanyaan yang sulit dijawab seperti ulangan Bahasa Arab yang tidak tahu artinya tapi harus menjawab. Andik pun dengan pede muncul seperti resi yang ingin memberi petuah bijaknya yang mencerahkan kepada kaum sudra.
“Innalillahi wainna ilaihi rajiun, sesungguhnya semua kembali kepada Allah,” sambil mengangkat jempolnya. “Siippp?”.
Semua ternganga. Ibu pemilik toko memberi hand body. Putri membayarnya, tanpa ada akad ataupun dialog, seperti film bisu The Chaplin. Semua terperangah dengan jawaban Andik. Dan seperti tombol pause yang kemudian di-play kembali, pemilik toko dengan pertengkarannya dan empat sekawan melanjutkan berangkat sekolahnya. Klise!
Ketika berjalan, empat sekawan itu terhadang oleh dua ibu guru MI yang memang berdekatan dengan madrasah mereka. Empat sekawan itu tidak berani mendahuluinya. Jadilah menguntit di belakangnya sambil menguping (lagi).
“Bu Nur, kita jadi guru sepuh, sudah puluhan tahun, tapi belum juga PNS. Males saya ngajari anak-anak,” Ibu guru memulai dialog kepada temannya.
“Ya jangan males to Bu Sit. Menjadi guru ini kan sudah pilihan kita. Jadi mau tidak mau ya harus ikhlas mengajar,” Ibu Nur menasihati temannya.
“Yang namanya ikhlas itu sudah dari dulu bu. Saya bersungguh-sungguh mengajari mereka, tapi apa balasan mereka, malah mereka terkadang tidak menghargai saya. Belum lagi kalau ada laporan dari wali murid, ngelabrak kemudian menyalahkan kita. Terlebih lagi, apa pemerintah memberikan perhatian lebih kepada kita,” Ibu Siti mulai sedikit emosi.
“Laaa.., namanya pekerjaan semua ada risikonya. Kita mengajar harus profesional Bu Sit. Orang tua menitipkan anaknya kepada kita, jadi kita harus amanah dan tanggung jawab,” balas Bu Nur.
“Bu Nur, Bu Nur, beras itu adanya di toko, bukan di akhirat. Amanah dan tanggung jawab bisa membayarnya? Kita mengajar profesional, apa ada jaminan murid-murid kita akan sukses?” Bu Siti mencoba membangun oposisinya.
“Dengan pendidikan kita akan membuat mereka terdidik,” Bu Nur mencoba lagi.
“Terdidik tapi kalau tidak ada jaminan sukses?” Bu Siti membalas lagi.
“Sekolah mencetak pejabat, Bu Sit.”
“Juga mencetak penjahat, penjahat terdidik malah,” timpal Bu Siti lagi.
“Hush! Eh, ini ko ada siswa aliyah nguping,” Bu Nur menyadari bahwa ada empat makhluk yang seperti terdidik di belakangnya.
“Kebetulan Bu Nur, mereka kan sekolah pasti terdidik, coba kalian jawab ini, pendidikan itu penting apa tidak? Kita sebagai guru harus profesional mengajar atau tidak?” Bu Siti menyemprot disinfektan pertanyaan kepada empat hama tadi.
Direntet berondongan pelor pertanyaan, empat makhluk di belakang dua ibu-ibu tadi diam membisu, berpandangan kosong sama kosong, kemudian menatap Andik, berharap muncul keajaiban. Andik menyadari kegalauan tiga karibnya. Ia menatap dua ibu tadi yang menunggu jawaban yang diharapkan bisa menengahi perdebatan mereka. Dengan percaya diri, Andik maju lebih depan dari tiga temannya dan mengucap kalimat sakti tadi untuk kedua kalinya.
“Innalillahi wainna ilaihi rajiun, sesungguhnya semua kembali kepada Allah,” sambil mengangkat jempolnya. “Siippp?”
Lima makhluk ciptaan Allah terpesona jawaban Andik, seperti terhipnotis, tidak membantah atau mengiyakan. Persis adegan film bisu untuk kedua kalinya. Dua ibu tadi melanjutkan perdebatan dan empat sekawan melanjutkan perjalanan ke madrasah dengan mendahuluinya tanpa permisi.
“Rek! Dari kedua kejadian tadi, semakin mantap aku untuk berhenti sekolah, tekadku sudah bulat!” berkata Rijal dengan tanpa keraguan.
“Jal, Jal…jangan menyimpulkan sendiri. La wong jawabannya masih bikin gamang gitu,” Arip membuat Jalun menjadi ragu kembali.
“Kalau kamu, Ndik, gimana?” Putri bertanya kepada Andik.
Sebelum Andik menyahut, ketiga temannya kompak menjawab, “Innalillahi wainna ilaihi rajiun, sesungguhnya semua kembali kepada Allah,” sambil mengangkat jempol. “Siippp..!!!”
Andik mengangkat dua jempol untuk tiga sahabatnya sambil tersenyum memperlihatkan dua giginya yang patah separo, akibat ikut pencak silat kemudian unjuk aksi di pentas agustusan lewat adegan mengupas kelapa dengan mulut. Apes!
“Eh, itu ada ustadz Umar, mari kita bertanya. Biasanya orang alim pasti punya jawaban,” ajak Rijal.
