Aku lahir di Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah, 1 Oktober 1919, diberi nama Saifuddin Zuhri oleh kedua orang tuaku. Ayahku memiliki dua ekor kuda untuk menarik delman guna mengantarkan orang atau barang ke tempat tujuan. Ibuku memiliki keahlian membatik tulis yang sering menerima pesanan dari tetangga atau kenalan-kenalannya. Kata ibuku: “Orang bodoh paling sengsara hidupnya.”
Di sebelah rumahku, ada warung Abdulbasir, tukang gunting rambut. Majalah politik Mustika asuhan HOS Tjokroaminoto, Fikiran Rakyat dari Bandung asuhan Ir Soekarno dan Gatot Mangkupradja, terdapat di sana. Pada 1929-an, yang akan menyentuh majalah itu akan tengok kanan kiri: “Ada polisi lewat atau tidak?” Aku, setelah selesai memberi makan kuda dan membersihkan kandangnya, sering menyelinap di sini, mendengarkan orang-orang mengobrol. Ustadz Mursyid, yang kelak menjadi guruku di Madrasah al-Huda, sering dijadikan topik pembicaraan grup ngobrol Abdulbasir.

Pada 1928-an, di Sukaraja diadakan pengajian khusus untuk para kiai. KH Akhmad Syatibi dibebani untuk membaca: tafsir al-Baidlawi, al-Bukhari, dan al-Hikam. Kadang-kadang beliau menjumpai kemusykilan tentang isi kitab yang sedang dibacanya. Tertegun sejenak, pandangannya ditaburkan kepada empat orang kiai pendampingnya: Kiai Raden Iskandar, Kiai Akhmad Bunyamin, Kiai Zuhdi, dan Kiai Mursyid alias Ustadz Mursyid alias Mas Mursyid. Tapi pandangan pertama tak jarang ditujukan kepada Ustadz Mursyid sambil menanyakan: “Bagaimana yang ini, kiai? Atau bukan begitu, kiai?” Yang ditanya tegas saja jawabannya: “Inggih leres mekaten.” (Memang benar demikian).
Pada 1929, aku diterima menjadi murid Madrasah al-Huda. Suatu hari, Ustadz Mursyid berkisah: “Nabi Sulaiman AS dipersilakan oleh Allah SWT memilih salah satu dari tiga perkara: ilmu, kerajaan, atau kekayaan harta benda. Nabi Sulaiman memilih ilmu pengetahuan.” Kepadaku diajarkan bahwa soko guru unsur kehidupan tegaknya suatu negara ada empat perkara: ilmunya alim ulama, adilnya penguasa, kedermawanannya orang-orang kaya, dan doa restunya orang-orang melarat.
Pesantren adalah subkultur dalam kehidupan masyarakat kita sebagai suatu bangsa. Pesantren tidak mudah menerima suatu perubahan yang datang dari luar karena memiliki benteng tradisi tersendiri. Tradisi kerakyatan dalam mengabdi kepada Allah SWT dan menyebar kebaikan di tengah masyarakat. Sekitar 1930-an, pengaruh gerakan nasional ditandai oleh kampanye serta aktivitas Partai Indonesia dan Pendidikan Nasional Indonesia sampai ke pesantren. Ir Soekarno, Drs M Hatta, Mr Sartono, atau Gatot Mangkupraja sangat terkenal. Santri-santri sering mendiskusikan imperialisme-kapitalisme, nonkooperasi, selfhelp, di samping fail naibul fail, anwauz zakat atau mad wajib muttashil dari kajian pesantren.
Umurku 14 tahun, saat diajak Raden Haji Mukhtar mengikuti rapat Nahdlatul Ulama di Mandiraja, dekat Banjarnegara. Pak Mukhtar adalah konsul NU yang mengkoordinir 13 cabang di Karesidenan Banyumas, Kedu, dan Yogya. Pada 1937, aku direstui ayah dan ibu untuk belajar ke Solo. Aku diterima di Madrasah al-Islam Solo di kelas yang tertinggi, kelas IV. Dengan membawa ijasah tanda lulus dan tamat belajar, aku pulang ke kampung halaman. Kunci-kunci yang kuperlukan sudah kuperoleh. Hanya orang pandai yang mengetahui kunci rahasia hidup, kunci kebahagiaan hidup. Tetapi pintar saja tidak menjamin seseorang mencapai kebahagiaan hidup. Faktor akhlak sangatlah penting. Faktor lain, yaitu keberuntungan nasib. Faktor ini hanya berada dalam kekuasaan Allah SWT. Sebab itu, orang mestilah mendekatkan diri kepada Allah untuk memperoleh keridhaan, taufik, dan hidayah-Nya.
Di Sukaraja, dengan restu Ustadz Mursyid dan Pak Mukhtar, aku mendirikan sekolah Islamitisch Westerse School (IWS) dalam lingkungan Nahdlatul Ulama. Aku adalah pembantu tetap majalah Berita Nahdlatul Ulama dan Suara Ansor, keduanya dari Surabaya. Kemudian, aku dipilih sebagai Komisaris Daerah Pemuda Ansor Jawa Tengah Selatan, mewilayahi Karesidenan Banyumas, Kedu, dan Yogya.
Pada 1939, aku menerima surat dari KH A Wahid Hasyim, putra ulama besar yang harum namanya Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang. Putra Tebuireng ini, pada usia 25 tahun, dipilih sebagai Ketua Dewan Majlis Islam A’la Indonesia, badan federasi pucuk-pucuk pimpinan partai politik dan organisasi Islam seluruh Indonesia. Kemudian, di Pesantren Tebuireng, diantar oleh Kiai Wahid, aku menghadap Hadratus Syaikh. Aku terpukau oleh sinar wajahnya yang bercahaya, memancar dari wajah orang yang sangat berwibawa. Ketika Kiai Hasyim membaca kitab al-Bukhari, biasanya ditamatkan selama bulan Ramadhan, berduyun-duyun kiai-kiai dan santri-santri dari luar daerah untuk mondok di Tebuireng, hendak mendengarkan Hadratus Syaikh membaca kitab tersebut. Mereka mengatakan bahwa: “Hadratus Syaikh sebenarnya hafal seluruh isi kitab yang terkenal ini, seolah-olah sedang membaca kitab karangannya sendiri.”
