Buku Cerita Mahasantri

Cerita Mahasantri: Esai-Esai Pilihan Mahasantri Ma’had Aly Se-Indonesia

Konten buku yang cukup beragam dari berbagai kisah mahasantri ma’had aly se-Indonesia menjadikan buku ini menarik untuk dimiliki dan dibaca. Sebagai pembaca, melalui buku ini kita akan mempunyai gambaran —walaupun tidak sempurna— betapa uniknya menjalani pendidikan salaf di ma’had aly. Jangan salah sangka dulu, saya tidak sedang mempromosikan Ma’had Aly Nurul Jadid atau ma’had aly lainnya, tapi memang begitu kenyataannya.

Saya akan mencontohkan betapa unik dan “saktinya” mahasantri ma’had aly. Sebut saja Sofiyatul Rizkiyah, esais dari Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, ini merangkai harmoni kehidupan yang ia jalani di ma’had aly tersebut dan diberi judul “Tatkala Ma’had Aly Menyadarkan Saya”.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dari judulnya saja daya magisnya luar biasa. Ia merasakan sebuah kesadaran ketika ma’had aly “mampu” menyadarkan dirinya. Asumsi saya, sebenarnya judul ini sedikit abstrak dan bias, oleh karena itu dalam tulisannya ia harus mampu mengurai apa makna menyadarkan yang ia maksud, menyadarkan dalam hal apa dan kepada apa.

Setidaknya saya mendapatkan kesimpulan ketika membaca tuntas esai Sofiyatul Rizkiyah ini, bahwa menjalani pendidikan dan pembelajaran di ma’had aly menyadarkan dia akan pentingnya menjaga semangat belajar, berjiwa kompetitif, dan membangun gagasan-gagasan brilian. Ia tak habis pikir, kalau belajar di ma’had aly sebegitu “ruwetnya”. Hal ini ia tuangkan dalam salah satu paragrafnya:

Sejak sebelum menginjakkan menginjakkan kaki di Ma’had Aly, saya mengetahui bahwa di Ma’had Aly cara belajar dan mengajar yang berjalan adalah dengan menggunakan metode diskusi, tetapi saya tidak tahu bahwa di sini, metode tersebut akan benar-benar berjalan. Mengapa demikian, karena semua teman saya benar-benar tidak mau ketinggalan, mencoba untuk bersikap kompetitif dan menyumbangkan gagasan, sedangkan saya sendiri masih melongo mencoba mencerna sekaligus memahami keadaan dalam dunia baru ini. Dunia di mana budaya menerima dan melakukan kritik terpelihara dengan apik. Ungkapnya (halaman 37)

Belajar di ma’had aly menjadi sebuah nikmat yang tak terkira. Tiga aspek penting dalam kehidupan: intelektualitas, spiritualitas, dan moralitas menjadi lebih terarah dan terangkat berkat polesan para kiai.

Tinggalkan Balasan