
Ternyata, selain memperoleh pendidikan umum dan agama, para santri berkebutuhan khusus di pesantren ini juga mendapat terapi perilaku. Misalnya, untuk santri autis, ada terapi bicara, terapi kontak mata, dan terapi kepatuhan agar yang bersangkutan dapat berkomunikasi dua arah dengan baik.
Pembimbingan dan pendampingan terhadap santri yang mondok juga dilakukan 24 jam, dan proses belajar terus berlangsung mulai dari tidur hingga santri tidur kembali. Dengan proses belajar dan pendampingan seperti ini, setiap santri berkebutuhan khusus memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi masing-masing.

