Cermin Buram Resi Durna

Berkat bersihan hati yang tidak menaruh prasangka buruk pada sang guru, Bima akhirnya selamat. Saat berada di tengah samudra, Bima justru bertemu dengan Dewa Ruci yang merupakan manifestasi dari esensi dirinya sendiri. Bima mendapat pencerahan spiritual dan pengetahuan sejati (ilmu hakikat) Dewa Ruci. Dan Bima dapat kembali dengan selamat dan tercerahkan, sehingga membuat Durna makin kecewa.

Di sini terlihat, bagaimana kekuatan hati yang bersih dan jiwa yang tulus ikhlas dapat mengalahkan jiwa yang licik dan culas, yang ditutupi dengan selubung jubah suci seorang resi dan kemuliaan seorang guru.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam perang Bharatayudha, Durna berada di pihak Kurawa, yang dalam dunia wayang menjadi simbol dari kejahatan dan angkara murka. Pemihakan Durma kepada Kurawa karena dia berutang budi secara materi dan status kepada Hastinapura. Prabu Duryudana telah memberikan jabatan dan berbagai fasilitas mewah kepada resi Durna. Bahkan anak tunggalnya, Aswatama, diangkat sebagai anggota keluarga Kurawa dan diberi kedudukan dan mendapat banyak kenikmatan hidup.

Pada akhirnya, siasat lick dan keculasan Durna berakhir berkat strategi Kresna. Saat perang Bharatayudha, disebarkanlah berita bohong (hoax) bahwa Aswatama mati di medan laga. Mendengar berita ini, Durna yang sangat mencintai anaknya, terguncang jiwanya sehingga tanpa sadar meletakkan senjatanya. Pada saat itulah Drestadyumena dapat membunuh pendeta Durna.

Kisah Resi Durna ini mencerminkan bahwa tidak semua orang yang menyandang jubah suci sebagai seorang resi dan menempati posisi mulia sebagai seorang guru dapat menjalankan peran tersebut secara baik. Gelar orang suci dan posisi terhormat tanpa dibarengi dengan kebersihan hati dan ketulusan justru dapat menjadi sumber bencana dan kerusakan sosial.

Dari Durna kita juga dapat melihat betapa bahayanya penyalahgunaan wewenang dan otoritas yang dilakukan oleh seseorang yang menyandang gelar suci dan posisi mulia. Dampaknya tidak hanya dapat mencelakakan orang per orang, tetapi juga bisa merusak sistem dan tatanan sosial yang dapat menimbulkan hura-hura, kekacauan, bahkan perang saudara.

Tinggalkan Balasan