Cinta Ilmu Kunci Peradaban Maju

Kita mengenal seperti ulama besar bergelar Hujjatul Islam Imam Ghozali (w.1111 M), seorang sufi yang faqih sekaligus ahli filsafat dan matematika; Ibnu Sina ( w.1037 M di Eropa dikenal dengan nama Avicenna ) sebagai ahli kedokteran dan filsafat; Ibnu Rusyd (w 1198) atau Averroes; seorang filsuf kenamaan, seorang maestro di bidang matematika, Al-Khawarizmi; kemudian Al-Farabi, seorang ahli filsafat dan juga penemu teori musik sebagai dasar musik modern; dan masih banyak lagi nama-nama besar ilmuwan muslim lainnya.

Mereka tidak hanya berhenti sebatas kajian keilmuan pada masanya, akan tetapi melahirkan banyak sekali karya-karya besar yang berupa pemikiran dan tulisan yang sampai sekarang masih digunakan tidak hanya di dunia Islam, bahkan di berbagai belahan dunia serta menjadi inspirasi sekaligus rujukan oleh ilmuwan-ilmuwan modern. Dan ini semua adalah fakta yang tak akan terbantahkan dan terhapus begitu saja dari lembaran sejarah manusia. Seluruh kemajuan dan pencapaian luar biasa dari generasi muslim terdahulu adalah sebab semangat dan kecintaan yang begitu besar pada ilmu itu sendiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kemudian, pertanyaan berikutnya adalah di manakah posisi kita sekarang sebagai muslim di tengah-tengah kemajuan peradaban yang ada hari ini? Islam sebagai agama terbesar yang dipeluk oleh manusia penghuni hamparan bumi ini, apakah termasuk dari mereka yang ikut andil menyumbangkan perannya dalam proses pembangunan itu? Ataukah hanya mereka yang tak tahu menahu tentang kemajuan dan bahkan yang terparah adalah justru menjadi golongan yang menghambat serta mengganjal proses kemajuan sebuah peradaban?

Setelah kita mengetahui peran dan pencapaian umat Islam terdahulu dalam membangun sebuah peradaban manusia yang gilang gemilang, tidakkah kita malu jikalau hanya menjadi umat yang berpangku tangan. Justru, yang seharusnya menjadi prinsip hidup selayaknya dipegang kuat oleh setiap muslim adalah menjadi penggerak dan pelopor kemajuan peradaban. Banyak hal dapat kita lakukan sebagai upaya mencapainya. Dan yang terpenting adalah kembali menggelorakan semangat dan kecintaan akan ilmu, yang sudah jelas kita yakini sebagai panglima utama dalam menggapai sebuah kemajuan.

Pada akhirnya, yang menjadi harapan kita bersama adalah terciptanya sebuah peradaban yang unggul. Peradaban yang dibangun dengan semangat dan kecintaan akan ilmu secara utuh. Sebuah peradaban manusia yang sebenarnya yang dituntun oleh nilai-nilai ke-ilahi-an. Dan yang menjadi pengemban tugas mulia ini adalah kita yang hari ini masih dikaruniai nikmat hidup.

Kesungguhan merupakan keniscayaan sebagai sebuah manifestasi rasa syukur atas nikmat akal dan juga sebagai wujud totalitas penghambaan pada Tuhannya yang mana manusia diamanati oleh-Nya sebagai khalifah pemakmur Bumi ini. Wallahu A’lam Bisshowab.

Tinggalkan Balasan