Peniup Terompet

Tiap kali ditiup, yang keluar cuma suara yang itu melulu: lirih, serak, dingin. Tapi ia tak pernah berhenti meniup. Dan ia enggan berhenti berjalan. Ia masih saja meniup. Ia masih saja melangkah. Maka, tret-tret-tret…tet-tet… suara itu terus saja menjelajah, lirih dan lamban, dan hiruknya sudut-sudut kota itu sigap menelan.

Lelaki itu akhirnya memilih: waktu tak boleh ditunggu, ia harus dijemput dari masa lalu. Maka, ketika orang ramai bersiap menyobek lembar terakhir penanggalan dengan lekas, ayun langkahnya kian gegas, bersicepat menapak tilas. Dan ia akhirnya memilih: Singaraja, dan bukan Kuta, adalah tilas waktu yang masih membekas.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kuta baginya cuma sebuah kerumunan. Di mana gedung-gedung yang dibangun berderet jangkung adalah tugu yang bisu. Di situ, semua orang berbicara, tapi tak pernah saling bertukar cerita. Pantainya memang masih seperti permadani, tapi yang menghampar tergelar hanyalah ilusi. Dengan dua kaki berpijak di atas hamparan ilusi, orang tak akan pernah benar-benar bersetia pada janji.

Tinggalkan Balasan