Semburat senyum Zana mengembang indah di bibirnya yang berlesung pipit. Menyapa mentari pagi yang masih belum tinggi menampakkan dirinya. Zana bersiap dan bergegas untuk berangkat ke sekolah. Dia duduk di bangku kelas 3 MAN. Zana termasuk siswi yang populer di sekolahnya karena kepandaian dan prestasinya.
Zana merupakan anak dari seorang pemuka agama dan pemilik pondok pesantren terbesar di Kota Batu. Perilakunya yang sopan dan ramah serta parasnya yang cantik membuat banyak laki-laki dan teman sekelasnya menaruh hati padanya. Namun Zana hanya bersikap biasa saja kepada mereka layaknya teman biasa.

Namun, salah satu dari mereka ada yang menarik hati Zana. Lelaki itu adalah Akbar. Dan kini mereka sudah menjalin hubungan selama hampir dua tahun —meskipun, Zana belum ingin berpacaran dan memang belum waktunya. Banyak yang bicara kalau Zana dan Akbar adalah pasangan yang serasi. Mereka juga sering mengikuti lomba bersama. Dari sanalah benih-benih cinta mulai tumbuh dalam hati mereka.
“Zana!” seru Akbar dari belakang Zana.
“Hay, Bar, ada apa?” jawab Zana sembari membalikkan badan.
“This is for you!” ucap Akbar sambil memberikan sebiji permen warna merah kepada Zana.
“Apaan nih?” tanya Zana ketika menerima permen tersebut.
“Kamu baca tulisannya dong!” jawab Akbar memberi intruksi kepada Zana.
Dan Zana tersenyum manis ketika membaca tulisan “Smile for Me!” yang berada di belakang kemasan permen tersebut.
“Nah, gitu kan tambah cantik,” ucap Akbar menanggapi senyuman Zana.
“Sok so sweet kamu,” jawab zana singkat.
“Emang aku so sweet!” jawab Akbar tak mau kalah.
Akbar adalah anak dari seorang pengusaha sukses. Ayahnya menjabat sebagai direktur di sana. Dan sampai sejauh ini, kedua orang tua Zana dan Akbar belum mengetahui sedikit pun tentang hubungan mereka, dan ini memang dirahasiakan. Mereka akan mengungkapkannya jika waktunya telah tiba.
***
Ujian Nasional telah terlewati. Dan kini saatnya menentukan tujuan selanjutnya untuk meraih cita-cita. Zana mengambil fakultas Sastra Arab di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Sedangkan, Akbar harus ke Eropa untuk meraih cita-citanya menjadi seorang arsitek. Dengan begitu, kebersamaan mereka harus diakhiri sampai di sini.
“Kapan kamu berangkat ke Eropa?” tanya Zana kepada Akbar ketika mereka sedang duduk bersama di sebuah bangku taman.
“Dua hari lagi, Za. Sebenarnya aku nggak mau berangkat dulu karena aku belum ingin pisah sama kamu. Tapi aku harus berangkat karena pembelajaran akan segera dimulai,” jawab Akbar panjang lebar menjelaskan. Zana hanya terdiam mendengar jawaban Akbar.
“Kamu kenapa, Za?” tanya Akbar yang bingung melihat Zana hanya diam membisu.
“Oh ya, aku minta sama kamu, Za,” ucap Akbar dengan sedikit terbata-bata. “Za. Kamu janji ya. Aku pengen kamu tetap menjaga hati untuk aku!” ucap Akbar melanjutkan ucapannya.
“Insyaallah, Bar. Aku akan tetap istiqomah sama kamu. Kamu juga akan istiqomah buat aku kan?” jawab Zana kembali bertanya.
“Pasti, Za. Itu pasti. Aku akan jaga hati cuma buat kamu. Ini janji aku ke kamu. Satu lagi, kamu harus janji kalau nanti kita sudah wisuda dan kembali ke Indonesia, kita langsung ke taman ini, ya! Setelah itu aku akan bawa kedua orangtuaku ke rumah kamu,” jawab Akbar.
“Ngapain kamu ke rumah aku?” tanya Zana terkejut. “Mau ngapain lagi, kalau bukan ngelamar kamu?” jawab Akbar kembali bertanya. Senyuman di bibir Zana cukup mewakili perasaannya saat itu. Perlahan titik-titik air mata mulai meleleh dari dalam kelopak matanya. Akbar ikut tersenyum bahagia melihat kebahagiaan Zana.
“Ini hanya secuil kebahagiaan dariku Za. Aku janji akan kasih kebahagiaan yang lebih besar lagi buat kamu,” ucap Akbar yang kembali membuat bibir Zana mengembangkan senyum manisnya.
“Aku akan menunggu ucapan kamu menjadi nyata, Bar,” Jawab Zana singkat.
