Cinta Istiqomah

“Sempat terlintas di benakku untuk melawan takdir, tapi untuk apa kalau memang akhirnya kita dipisahkan?” jawab Akbar.

“Mungkin kita memang nggak jodoh, Bar. Karena itu Allah memisahkan kita sampai di sini,” jawab Zana mencoba menguatkan hatinya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Jadi, istiqomah kita selama ini sia-sia, Za?” tanya Akbar dengan nada agak tinggi.

“Bukan sia-sia, Bar. Tapi mungkin inilah jalan Allah untuk kita,” jawab Zana dengan air mata yang masih terus mengalir dan sesekali terisak.

“Tapi aku nggak mau pisah sama kamu, Za. Sudah cukup aku menahan rindu karena pisah sama kamu selama empat tahun dengan harapan setelah masa sulit itu kita akan kembali bersama untuk selamanya. Namun setelah kembali apa yang aku dapat? Aku harus merelakan kamu hidup sama orang lain dan itu untuk selamanya!” ucap Akbar panjang lebar dengan titik-titik air yang mulai membanjiri matanya.

Zana hanya terdiam dengan tangisannya yang semakin menjadi. Dia tak menjawab sepatah kata pun. Baginya ucapan Akbar tadi sudah cukup dalam menyakiti hatinya.

“Baiklah. Berarti, kita harus berpisah sampai di sini. Dan setelah itu kita harus menemui calon kita masing-masing. Itu kan mau kamu, Za?” tanya Akbar yang membuat hati Zana semakin sesak mendengarnya.

“Bukan begitu, Bar. Maksud aku…” jawaban Zana terhenti dengan ucapan Akbar… “Sudah, sekarang aku harus pulang dan bersiap untuk menemui calonku. Kamu juga harus pulang, kan? Menanti kedatangan jodohmu!” kemudian Akbar beranjak pergi meninggalkan Zana tanpa pamit dan tanpa sepatah kata pun.

“Akbar!” teriak Zana ingin menghentikan langkah Akbar. Namun Akbar tidak menghiraukannya. Zana hanya diam memandang langkah kaki Akbar yang semakin lama semakin menjauh darinya.

***

Suara lembut kicauan burung bersama mengembangnya senyuman cerah sang mentari menyambut alam semesta pagi ini. Langit tampak cerah berwarna biru, namun tidak dengan Akbar. Hatinya terselimuti oleh kabut kesedihan dan kehancuran yang mendalam.

Dan hari ini dia akan berangkat untuk menemui jodohnya. Hatinya masih terasa berkecamuk, namun dia harus tetap berangkat. Akbar mencoba menata hatinya kembali, mencoba melupakan Zana dan menatap masa depannya dengan gadis yang tentu menjadi jodohnya itu. Namun, sepanjang perjalanan hanya bayang-bayang wajah Zana yang menghiasi pikirannya.

***

Zana menuju ruang tamu dan mendapati tiga orang yang tidak dia kenal. Zana tidak ingin melihat sang calon suami. Begitupun dengan jodohnya, dia tak sedikit pun memandang Zana, bahkan melirik pun tidak. Zana hanya tertunduk dan diam membisu.

“Zana, dialah calon suamimu! Namanya Farel,” ucap ayah Zana membuka percakapan. Kemudian Zana mulai memandang sang jodoh yang bernama Farel. Begitu juga dengan Farel, dan kini mereka saling berpandangan.

“Astaghfirullah…! kenapa Akbar ada di sini?” tanya Zana dalam hatinya. Begitupun dengan Farel, dia bertanya-tanya siapakah wanita yang ada di balik cadar itu? “Siapa sih tuh cewek, kayak kenal sama matanya. Mata yang di dalamnya ada kedamaian di masa depanku. Mata yang hanya dengan memandangnya saja akan meruntuhkan hati yang kokoh ini!” ucap Farel dalam hati.

“Sekarang, dengan disaksikan oleh kedua belah pihak. Maka, Muhammad Farrel Akbar dan Zaizatus Zana Nur Hafiza telah resmi dijodohkan. Maka kamu, Farel, berhak untuk melihat raut wajah putriku ini,” ucapan ayah Zana kepada Farrel seakan menyentak hati mereka, nama lengkap yang disebutkannya membuat hati Akbar deg-degan seketika itu.

“Anakku, sekarang bukalah cadarmu supaya calon suamimu dapat melihat raut wajahmu!” perintah ayah Zana kepada putrinya.

Kemudian, perlahan Zana membuka cadarnya. Dan sungguh, senyum manisnya menyambut Akbar hari itu. Seakan disambar beribu kilat, hatinya mendadak membeku ketika melihat raut wajah yang amat ia kenali dan ia harap akan menjadi pendampingnya kelak. Dan kini, dia sedang berada di depannya.

“Zana?” seru Akbar tertegun.

“Iya Bar, ternyata kamu yang selama ini aku nanti, yang aku tangisi, yang aku sesali karena kamu telah merenggut Akbarku. Dan ternyata kamu juga Farrel!” jawab Zana.

“Kalian sudah saling mengenal?” tanya Bunda Akbar yang ternyata bernama Farrel di mata ayah Zana.

“Iya, Bun. Yang Akbar maksud calon itu Zana. Sebenarnya kita sudah berhubungan sejak SMA. Dan kita sama-sama kecewa ketika mendengar kalian telah mencarikan jodoh untuk kita. Tapi ternyata Allah punya jalan lain untuk menyatukan kita lagi. Dan jalan itu lebih indah dari jalan yang kita rencanakan, Zana,” jelas Akbar panjang lebar sambil memandang Zana yang juga sedang tersenyum bahagia.

“Jadi, istiqomah kita nggak sia-sia, Bar. Allah memang Maha Adil,” jawab Zana.

Tinggalkan Balasan