Itu adalah secuil rencana untuk masa depan mereka. Namun kehendak Tuhan, siapa yang tahu?
***

Akhirnya mereka pun berpisah dan hanya bisa berkomunikasi jarak jauh, tanpa pernah bertemu. Bertahun-tahun sudah, mereka melewati hidup dengan tegar dan sabar. Mereka akhirnya selesai kuliah, dan diwisuda dengan IPK yang memuaskan dan membuat kedua orangtua mereka bangga. Kedua orangtua mereka pun dengan senang hati dan diliputi rasa bahagia menghadiri acara wisuda keduanya di tempat masing-masing.
“Selamat ya, Bar. Bunda bangga sama kamu,” ucap ibunda Akbar sembari memeluk Akbar.
“Makasih, Bun,” jawab Akbar dengan senyum bahagia. “Emm, Akbar! Ayah sama bunda mau bicara sama kamu,” ucap ayah Akbar dalam perjalanan menuju hotel yang ditempati kedua orangtuanya.
“Silakan Ayah, Bunda!” sahut Akbar pada keduanya.
“Bar, kamu kan sudah lulus S1 sekarang. Itu artinya kamu sudah besar dan beranjak dewasa. Ayah sama bunda sudah mencarikan seorang gadis untuk kamu. Dan kedua belah pihak sepakat untuk menjodohkan kalian,” ucap ayah Akbar yang membuat hatinya tersentak seketika.
“Iya Bar, kamu jangan khawatir. Anaknya cantik dan baik. Sopan lagi,” tambah bunda Akbar yang membuat hatinya semakin hancur. Seketika itu lamunannya langsung menuju kepada Zana yang selama ini telah ia perjuangkan hati, cinta, dan nafsunya hanya untuk Zana.
“Tapi… tapi, Yah, Bun! Aku udah ada calon sendiri!” ucap Akbar mencoba membantah.
“Nggak bisa Bar, kita udah sepakat sama pihak calon kamu. Dan kita nggak bisa membatalkan perjodohan begitu saja,” timpal Bunda Akbar.
“Tapi, Bun…!” bantah Akbar.
“Nggak ada tapi-tapian, nanti saat kita sudah kembali ke Indonesia Bunda akan mempertemukan kalian!” tegas bunda Akbar yang membuatnya terdiam membisu. Dia sudah tidak berani membantah kedua orangtuanya lagi, karena Akbar sangat menghormati keduanya. Sedari kecil, Akbar selalu menuruti perintah dan keinginan kedua orangtuanya. Dan kali ini, mau tidak mau dia harus menuruti permintaan mereka meskipun harus mengorbankan perasaannya. Dan Akbar pun hanya bisa pasrah dalam dilema ini.
***
“Assalamu’alaikum, Zana,” seru Akbar ketika mereka tengah bertemu di taman tempat mereka mengikrar janji empat tahun yang lalu. Zana membalikkan badannya dan menjawab “Wa’alaikumussalam.”
Akbar tersenyum ketika melihat wajah cantik Zana yang dari dulu tidak berubah. Hanya wajah cantiknya kini tertutup oleh cadar dan dia tampak mengenakan sarung tangan yang membuatnya semakin terlihat tertutup.
“Subhanallah…! Bagaimana bisa mata ini memalingkan pandangan dari makhluk seindah dirimu, Zana?” ucap Akbar seakan lega hatinya ketika melihat bidadarinya tetap seindah yang dahulu, bahkan bertambah keindahannya.
“Tapi kenapa mata kamu terlihat lebam?” tanya Akbar yang melihat mata Zana tampak merah dan bengkak.
“Akbar! Maafkan aku, tapi aku harus mengatakan ini,” jawab Zana lirih dan suaranya tampak bergetar.
“Katakanlah, Zana!” pinta Akbar seakan segera ingin mendengar ucapan apa yang keluar dari mulut Zana.
“Abi dan Umi sudah mencarikan jodoh untukku, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menurutinya. Karena aku tidak mau jadi anak durhaka, Bar!” jelas Zana dengan air mata yang terus mengalir dari kelopak matanya.
“Allahu Akbar…!! Kenapa nasib kita sama, Za? Namun Allah tidak menakdirkan kita untuk bersama,” jawab Akbar dengan hati yang begitu hancur berkeping-keping.
“Maksud kamu apa, Bar?” tanya Zana dengan suara bergetar.
“Ayah dan Bunda juga sudah mencarikan jodoh untukku, Zana!” jawab Akbar menjelaskan.
“Lalu apa yang harus kita lakukan, Bar? Aku nggak mau durhaka!”
