Cinta Suci Rusli

Hari ini ulang tahun Risa. Tapi Rusli membawakan dua kado. Walaupun Ana, Kakak Risa, tidak ulang tahun, ia tetap memberikan hadiah kepadanya. Rusli sangat menyayangi keduanya.

“Aku bersyukur telah menemukan Papa yang sangat mencintai anak-anakku,” puji Anisa kepada Rusli.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Aku juga bersyukur menemukan Mama. Karena sejak menikah, usaha jasa boga kita bisa menjadi besar.”

*

Tujuh tahun lalu, Rusli mengantarkan Anisa pulang untuk menemani ibunya ke peristirahatan terakhirnya. Di tengah perjalanan, Rusli hatinya hancur setelah mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Anisa.

“Farhan kemarin melamarku. Sebenarnya aku berjanji hari ini akan menjawabnya, tetapi ibu sekarang telah berpulang.”

Hati Rusli seketika menjadi hancur. Cinta yang dipendamnya seketika kandas mendengar perkataan bahwa Anisa, gadis yang dicintainya, dilamar oleh sahabatnya sendiri.

“Seandainya aku yang melamar kamu kemarin, bagaimana jawabanmu, Cha?”

“Bercandamu tidak lucu, aku lagi berkabung, Rus.”

“Farhan itu orang baik, sebagai pimpinan EO kita ia tegas, disiplin, komunikatif.”

“Iya sih, tapi menurutku lebih terkesan kaku daripada ketegasan.”

“Kamu itu santun, kreatif, dan artistik. Sudah jadi pasangan yang klop kalau jadi pasangan suami-istri.”

“Bisa saja kamu Rus.” Anisa tersipu malu.

“Tapi serius aku tanya, seandainya aku yang melamarmu apa akan kamu terima?” Rusli berkata dengan cengar-cengir.

“Mungkin saja. Jika kamu lebih kaya daripada Farhan.”

“Iya aku sadar gajiku tidak akan kuat beli kosmetik untukmu.”

Sebenarnya dalam canda Rusli terungkap perasaan cintanya kepada Anisa, sahabatnya sejak kecil. Tetapi ia merasa minder terhadap Anisa, perempuan yang paling cantik di Event Organizer yang mereka dirikan. Semua karyawan sangat mengidolakan Anisa karena kesantunan, kecerdasan, dan tangan dinginnya dalam seni dekor.

*

Seminggu setelah Farhan dan Anisa menikah, Farhan, Rusli, dan Anisa semakin kompak sehingga Event Organizer mereka semakin berkembang. Yang dulu satu bulan paling banyak lima kali memperoleh kontrak pekerjaan, sekarang sudah lebih dari sepuluh kali.

Hari ini mereka  memboyong perlengkapan EO dari pelanggan. Usai semua perlengkapan EO direkap, mereka membuka kotak saran para tamu.

“Banyak tamu yang memuji masakanmu, Rus. Mereka menuliskan bahwa ‘masakanmu cocok dilidah para tamu’.”

“Jangan terlalu banyak membaca pujian, Han, nanti mematikan evaluasi kita. Apa ada kritikan dari para tamu?” tanya Rusli.

“Mayoritas mereka bilang harganya minta dimurahkan.”

“Wah, kalau itu pasti saran dari tuan rumah,” celetuk Anisa.

Tiba-tiba dering gawai Rusli menyela obrolan mereka. Terlihat Ilham, ayah Rusli, tertulis di layar gawainya.

“Assalamualaiku, Pak.”

Selang beberapa detik, raut wajah Rusli berubah. Ia menerima kabar bahwa ibunya sudah tidak sadarkan diri selama tiga hari akibat terjatuh di teras rumah. Ayahnya berharap Rusli untuk segera pulang kampung menjenguk ibunya.

Entah bahagia atau sedih perasaan Rusli ketika diminta pulang. Sebenarnya Rusli telah lama patah hati sejak Anisa menerima lamaran Farhan. Di sisi lain, ia sangat menyayangi EO karena banyak cucuran keringat dan pikiran membesarkan usaha itu. Dilema besar melanda hatinya saat memilih antara bertahan sakit hati tetapi bangga dengan gaji besar atau lari dari kenyataan tetapi menganggur.

“Aku sepertinya harus pulang ke kampung, Han. Ibuku kritis sejak tiga hari lalu. Kata Bapak, ‘sebelum Ibu sakit, ibu ingin menemuiku’.”

“Tidak mengapa jika kamu jenguk ibumu sampai sembuh dulu,” kata Anisa.

“Beberapa waktu lalu vc sama kamu sepertinya masih sehat. Sakit apa kok sampai mendadak kritis?” tanya Farhan.

Tinggalkan Balasan