Cinta Suci Rusli

“Ibu jatuh di teras tiga hari lalu. Waktu ingin naik ke tangga ruang tamu terpeleset air hujan.”

“Kami mohon maaf, Lusa baru bisa menjenguk insyaallah. Tenang saja, urusan even besok kami yang akan tangani. Sebentar aku ambilkan HR kamu untuk hari ini.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

*

Tepat tiga hari setelah Rusli berada di rumah ayahnya, Farhan datang sendiri.

“Mana Anisa?”

“Anisa sakit, ia tidak bisa ke sini. Ia hanya titip permohonan maaf karena tidak bisa ke sini.”

“Sakit apa?

“Hamil anak pertama kami.”

“Alhamdulillah. Aku turut berbahagia karena sebentar lagi akan jadi Om.”

“Bagaimana kabar ibumu?”

“Ibu menderita gejala stroke, ia harus menjalani beberapa terapi agar bisa pulih.”

“Semoga ibumu lekas sembuh, Rus.” Farhan terdiam sejenak.

“Anisa sekarang sedang istirahat total. Aku sedikit kerepontan meng-handle pekerjaan, kapan kamu rencana kembali bekerja?”

“Aku tidak tahu, Han. Sekarang, keadaan keluargaku suda tidak seperti dulu. Jadi, aku harus menjadi tulang punggung keluargaku dan membantu ayah merawat ibu.”

*

Rusli memulai wirausaha mandiri, ia membuka usaha jasa boga daring. Bermodalkan pengalamannya bekerja sebagai EO, ia merintis usahanya sejak setahun lalu. Walaupun uang yang didapatkan tidak sebanyak honor di EO dulu, ia tetap merasa bersyukur.

Tetapi terkadang rasa syukur itu dihantam bersalah kepada Farhan dan Anisa yang masih menghantuinya. Sebab, sejak ia memilih untuk meninggalkan EO-nya, Farhan tidak mau menerima teleponnya, begitu juga Anisa.

“Kamu jangan menelepon atau sms kepadaku, Rus. Tolong jangan perasaan Farhan,” kata Anisa ketika ditelepon Rusli.

“Apa maksudmu, Cha? Apa salah aku menanyakan kabar Farhan darimu?”

“Tidak salah, Rus. Tetapi ini menimbulkan fitnah. Farhan tidak suka jika kamu meneleponku. Ia cemburu.”

“Baiklah, sampaikan kepada Farhan untuk ‘mengangkat telepon dariku’ agar silaturahim kita bisa tetap terjaga.”

Tak disangka, itu adalah percakapan di telepon terakhir Rusli dengan kedua sahabatnya. Rusli semakin khawatir ketika kedua nomor sahabatnya tidak bisa dihubungi. Ia memutuskan untuk menelepon karyawan EO Farhan.

“Assalamualaikum, Pak Har.”

“Waalaikumsalam, Pak Rus.”

Betapa terkejut hatinya, ketika Pak Hari menceritakan bahwa EO Farhan bangkrut beberap bulan setelah pengunduran dirinya.  Sekarang, Farhan memutuskan menceraikan Anisa. Menurut gosip yang beredar di karyawan, Anisa berubah sejak kehamilannya, sering sakit sehingga kualitas dekorasi menurun. Selain itu para pelanggan juga mengeluh masalah kualitas masakannya juga menurun.

“Sekarang, Farhan dan Anisa tinggal di mana?” tanya Rusli.

“Anisa sekarang sedang depresi dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Kalau Farhan tidak tahu.”

Hati Rusli hancur mendengar kisah tragis keluarga sahabatnya itu. Setelah pembicaraan dengan Pak Hari, ia memutuskan pergi ke rumah sakit jiwa untuk menemui Anisa.

*

“Saudari Anisa keadaannya sudah membaik dari depresi berat akibat kekerasan yang dialaminya selama ini. Obat-obat yang kami berikan hanya sebagai faktor pendukung. Ia membutuhkan perhatian penuh dari orang-orang terdekatnya. Motivasi untuk melanjutkan kehidupannyalah yang menjadi faktor penentu kehidupannya,” kata Dokter Fendi kepada Rusli.

Usai mendengar penjelasan tersebut ia mengunjungi Anisa di kamarnya. Ia melihat Anisa sedang hamil. Terlihat juga bekas jerat tali di leher dan beberapa luka di tangan Anisa.

Tinggalkan Balasan