“Assalamuaikum, Cha.”
Anisa sama sekali tidak menjawab salam dari Rusli. Dengan agak canggung, ia berdiri di samping Anisa yang sedang memandang jendela dengan tatapan kosong. Dengan sabar, berbagai cara dilakukan Rusli agar Anisa meresponsnya.

“Hai Cha, aku membawakan nastar makanan kesukaanmu,” Rusli sangat bahagia ketika Anisa mulai meresponsnya.
“Kamu mau nastar?” Anisa tak berucap, tetapi ia membuka mulutnya.
“Semua orang pasti menghadapi cobaan dalam hidup, Nis. Allah tidak akan memberikan cobaan melampaui kemampuan seseorang. Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang bersabar mengahadapi ujian-Nya.”
Di setiap akhir pekan, Rusli menyempatkan diri untuk memotivasi Anisa. Hingga pada akhirnya, Anisa diizinkan untuk menjalani rawat jalan. Saat Rusli menjenguk Anisa di rumahnya, tiba-tiba terlontar kata, “Apakah kamu masih menginkan melamarku, Rus?”
Raut wajah Rusli seketika tertegun mendengar pertanyaan itu di depan keluarga Anisa. Rusli menengok ke orang tua Anisa, mereka mengisyaratkan kepada Rusli untuk mengangguk.
“Semua perlu proses, Cha. Kita bicarakan setelah buah hatimu lahir, ya?”
“Aku memang gila, Rus. Tapi aku tidak bodoh. Jangan membohongiku.”
“Iya kita bahas setelah kelahiran buah hatimu. Aku juga perlu meminta restu orang tuaku, keluargamu, dan…”
“Jangan pernah menemuiku, jika hanya untuk menjawab ‘tidak’ atau sekadar menghiburku dengan jawaban bohongmu.”
“Dalam Islam tidak boleh menikahi wanita hamil. Jadi izinkan aku dan keluargaku memikirkan jawaban atas pertanyaanmu,” sahut Rusli.
“Dalam Islam juga mengajarkan jangan pernah sering menemui wanita bukan muhrimnya. Jadi, jangan pernah temui aku lagi.”
*
Akhir pekan ini, Rusli berniat menjenguk Anisa, tetapi Anisa menolak menemuinya. Anisa mengancam akan bunuh diri jika Rusli masih nekat menemuinya.
Sejak kunjungan Rusli, Anisa berpura-pura meminum obat. Akibatnya, delusi mulai melanda pikirannya. Dalam delusinya, Anisa merasa Farhan datang kemudian menyiksanya seperti yang dialaminya dulu.
“Apa salahku, hingga kamu masih mendatangiku ke sini. Ceraikan saja aku, jangan lagi kamu menyakitiku,” Anisa berbicara dengan berteriak.
Mendengar teriakan itu, Topik, ayah Anisa, kemudian terbangun.
“Nak, apa kamu baik-baik saja?” tanya Topik sambil mengetuk pintu kamar Anisa.
Terdengar pecahan kaca dari kamar kamar Anisa. Topik menjadi semakin panik. Tanpa berpikir panjang, Topik mendobrak pintu kamar Anisa. Ia menemukan Anisa tergeletak tak sadarkan diri.
*
Usai mengantar ke rumah sakit, Sara menemui Rusli untuk membicarakan masalah Anisa. Dari balik pintu kamar, Ilham, Ayah Rusli, menguping pembicaraan mereka.
“Masih ingat kejadian dua tahun lalu, ketika kamu mengantar Kak Nisa untuk melihat ibunya terakhir kali?” tanya Topik kepada Rusli.
“Iya, Sar.”
“Ia bercerita sebenarnya kamu, kamu yang diharapkan melamarnya. Kak Nisa sebenarnya memendam rasa kepadamu.”
“Aku sebenarnya juga dulu mencintainya, tapi apa daya Farhan telah melamarnya terlebih dalu.”
“Lantas bagaimana perasaanmu terhadap Kak Nisa sekarang?”
Rusli terdiam. Melihat pembicaraan menjadi hening, Ilham menyeletuk.
“Kamu harus menerima permintaan keluarga Pak Topik. Rus, aku tahu kamu mencintai Anisa. Aku tahu kamu pulang ke rumah karena kamu tak mampu menahan rasa cemburumu kepada Farhan.”
Rusli hanya terdiam, membenarkan ucapan ayahnya.
“Berilah kesempatan Anisa untuk hidup. Biarkan cintamu juga tercurah untuk Anisa.”
