Coretan Tangan Lelaki Buta

“Lho? Kenapa saya diancam? Padahal saya ingin membantu warga,” ia berbicara dengan nada mulai serius.

“Membantu? Ha-ha-ha… Dasar kau tolol!” sambung suara lelaki lain terdengar dari samping. Suara-suara lain bermunculan. Intinya sama-sama mengecam, bahkan beberapa di antaranya hendak memukulnya saat itu. Beruntung Kiai Harun sigap melerai agar warga tak menyakitinya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kiai Harun meminta warga segera pulang dan memaafkan perbuatan lelaki itu. Satu per satu warga pulang, tapi masih dengan kedongkolan yang tak tersampaikan. Wajah warga masih menyiratkan kebencian pada lelaki buta itu. Setelah warga pergi, hanya Kiai Harun dan lelaki buta itu yang berada di masjid itu.

Kiai Harun, dengan pernyataan halus meminta lelaki itu untuk berhenti mencoreti rumah warga, supaya warga tidak marah kepadanya.

“Itu semua demi kebaikanmu juga. Jika kamu berhenti mencoret rumah warga, mereka pasti bersikap baik kepadamu, sebagaimana hari-hari yang lalu,” ucap Kiai Harun sembari mengelus lembut bahu lelaki itu.

Ia tertunduk diam, seperti mencermati nasihat Kiai Harun. “Jika kamu hobi membuat sketsa, biar saya belikan kamu kertas dan alat tulis. Nanti kamu bisa menggambar di sana,” imbuh Kiai Harun, masih dengan tatap yang lurus ke wajahnya. Keadaan sebentar hening. Hanya terdengar kecius angin, mengiringi fajar yang merekah.

“Saya mencoret bukan karena hobi, Kiai,” suara lelaki itu agak serak. Wajahnya menunduk dan nyaris tumpah air mata.

“Lantas karena apa?” tanya Kiai Harun bersamaan dengan tangan kirinya memasukkan tasbih yang sedari tadi diputar pelan.

“Karena ingin menyampaikan sesuatu.”

“Kalau kamu ingin menyampaikan suatu pesan, seharusnya melalui lisan, atau bisikkan kepadaku biar aku yang akan menyampaikan kepada warga.”

Lelaki tunanetra itu kembali terdiam. Ia hanya menunduk sembari melinangkan air mata. Sesekali terisak dan sesekali menyeka air mata dengan jemarinya. Keadaan kembali hening.

“He-he… Tak usah menangis. Yang penting ikuti nasihatku jika kamu ingin aman. Aku sangat menyayangimu. Itulah sebabnya kenapa aku harus menasihatimu. Jangan ulangi lagi ya!” Kiai Harun menepuk-nepuk pundak lelaki itu. Ia mengangguk pelan. Air bening masih membutir dari sudut matanya yang rapat.

Keesokan harinya, sehabis salat subuh, lelaki tunanetra itu menemui Kiai Harun di teras masjid ketika warga yang berjemaah sudah pulang.

“Kiai, jika boleh untuk yang terakhir kalinya saya ingin membuat coretan khusus buat Pak Kiai,” suaranya pelan dan santun.

Kiai Harun sejenak menghela napas sambil berpikir di sela gerak jemari yang masih memutar tasbih dan getar bibir yang melafaz zikir.

Tinggalkan Balasan