“Baiklah, tapi silakan coret di sini.” Kiai Harun menjulurkan selembar kertas bekas sobekan bungkus kue yang ada di sisi pilar. Dengan tangan yang meraba-raba, lelaki buta itu menerima sobekan kertas itu. Seperti biasa, lalu telunjuknya mencoret kertas itu dengan cairan kesumba kuning yang sebelumnya ia ambil di saku bajunya. Jarinya lincah menjejakkan leliuk garis yang merapat, membentuk sketsa mirip lingkaran air. Sedang di tengah lingkaran itu ada sketsa masjid. Kiai Harun memandangnya dengan kedua mata yang fokus seraya mereka-reka gerangan apa makna sketsa itu.
“Pada tanggal 17 bulan ini, usahakan Kiai beserta keluarga berada di sini.” Telunjuk lelaki itu tepat menyentuh sketsa yang mirip masjid.

“Berada di masjid?”
“Iya,” jawab lelaki tunanetra itu singkat. Kiai Harun mengambil pelan kertas itu dengan kedua mata yang masih tak selesai mengamati oretan sketsa.
“Mohon simpan kertas itu, Kiai,” pinta lelaki itu dengan suara datar. Kiai Harun mengangguk meski di hatinya masih merasa kertas itu hanyalah bagian hal unik yang dilakukan oleh seorang tunanetra yang pasti tak bermakna apa-apa. Hanya demi menghargai lelaki itu, Kiai Harun pun menyelipkan kertas itu ke saku bajunya dan membawanya pulang.
***
Lelaki tunanetra itu tak lagi terlihat di kelurahan Manakari sejak beberapa hari terakhir, tepatnya setelah ia memberikan coretan selembar kertas kepada Kiai Harun. Sebagian warga perlahan berubah menjadi kangen kepada lelaki itu setelah ia tak terlihat lagi. Warga yang merasa kangen itu kadang menatap bekas samar coretan lelaki itu di tembok rumahnya yang telah dilabur dengan cat. Selain kangen, sebagian warga juga merasa menyesal telah memarahi lelaki itu hanya gara-gara mencoret tembok.
Pak Lurah pun demikian. Ia diam-diam merasa kangen kepadanya dan menyesal pernah mengancamnya. Setiap melihat bekas samar oretan lelaki tunanetra itu di tembok kantor, ingin rasanya ia menampakkan coretan itu kembali untuk mengobati rasa kangennya kepada lelaki tunanetra itu. Banyak warga yang bertanya kepada Kiai Harun mengenai lelaki itu, tapi Kiai Harun juga tidak tahu ke mana lelaki itu pergi.
Ketika tiba tanggal 17, Kiai Harun memandangi coretan pada kertas yang ia terima dari lelaki buta itu. Antara ragu dan tidak, ia pun mengajak keluarganya untuk tinggal di masjid sejak sehabis subuh dengan membawa bekal makanan. Keluarganya merasa lucu dengan perbuatan Kiai Harun yang mau saja menuruti nasihat lelaki tunanetra itu.
“Turuti saja. Siapa tahu dia wali Allah,” jawab Kiai Harun.
Hari itu —sehabis subuh— hujan turun sangat lebat. Lama sekali. Berjam-jam. Debit air terus naik. Parit dan sungai meluap. Airnya mengalir ke jalan raya hingga dalam waktu sekejap, kelurahan Manakari tampak bagai lautan. Banyak warga yang panik. Terdengar teriakan dan tangis. Ada juga yang berlarian menyelamatkan barang dan anak-anak. Hari itu tak bisa dielakkan: banjir menerjang kelurahan Mankari. Rumah-rumah digenang air setinggi satu setengah meter. Hanya masjid dan rumah Kiai Harun yang tidak dimasuki air.
Kiai Harun dan keluarganya baru sadar makna coretan sketsa air di kertas itu. Sebagian warga juga ada yang sadar tentang coretan sketsa air di tembok rumah mereka. Mereka berpikir, seandainya tidak marah-marah kepada lelaki tunanetra itu, mereka akan memberi cara untuk mengantisipasi datangnya banjir.
Kelurahan Manakari tergenang air selama dua hari dua malam. Setelah susut, ternyata hanya masjid dan rumah Kiai Harun yang tak dimasuki air. Semua tercengang. Lelaki buta itu kembali diperbincangkan warga dengan sketsa airnya. Banyak yang mengatakan dia seorang waliyullah. Warga banyak yang bertanya perihal keadaannya kini. Mereka sangat mengimpikan kehadiran lelaki buta itu untuk melakukan tindakan ajaib yang bisa menyulap rumah berlumpur jadi bersih kembali, sekaligus supaya banjir tak datang lagi.
Hari-hari setelah banjir, warga masih diliputi rasa waswas. Mereka khawatir banjir akan datang lagi. Sebelum banjir datang, mereka butuh kesiapan, dan kesiapan itu tak bisa dilakukan jika tidak ada yang bisa meramal datangnya banjir. Maka kedatangan lelaki tunanetra itu semakin mereka harapkan. Beberapa warga mulai mencari lelaki itu untuk dimintai doa, obat, dan ramalam-ramalan yang biasanya ia sampaikan melalui coretan jari pada tembok dan kertas. Tapi pencarian itu sia-sia, lelaki buta itu tetap tidak ditemukan. Hingga suatu hari, tersiarlah kabar dari seorang bocah, bahwa dirinya pernah melihat lelaki tunanetra itu suatu pagi dijemput burung raksasa di perbatasan kota, lalu dibawanya terbang ke langit.
ilustrasi: istock.
