Yang selanjutnya terbaca dari Sampar adalah ini: drama! Wabah selalu berubah menjadi panggung drama, terutama bagi manusia-manusia pemain watak. Dalam panggung drama Sampar, warga Oran adalah penonton yang pasif, pasrah, tak berdaya. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu giliran. Giliran untuk dikucilkan, dikarantina. Giliran untuk ditumpuk, ditimbun bertindihan bersama mayat-mayat lain dalam kuburan masal.
Tapi tidak demikian dengan para pemain wataknya: ada Dokter Bernard Rieux yang tetap tekun bekerja tapi tidak lagi untuk mengobati dan menyembuhkan, melainkan sekadar mendiagnosa —stempel bagi setiap orang untuk dikarantina; ada Rambert, wartawan oportunis yang memanfaatkan posisinya untuk bisa kabur dari Oran yang lockdown; tentu saja ada pastor Paneloux yang membuat horor kian mencekam melalui khutbah-khutbahnya yang menyebut bahwa pandemi adalah murka Tuhan atas kota yang bergelimang dosa. Dan bintang panggungnya adalah para politisi, dengan atau tanpa nama, yang membuat semakin kusut keadaan, hingga Oran benar-benar menjadi kota mati.

Sampar tentu saja tidak lahir dari ruang hampa. Jauh sebelum Sampar terbit, telah banyak wabah global yang telah menjungkirbalikkan tananan dunia. Misalnya saja, ada yang disebut Black Death dan Flu Spanyol. Keduanya adalah pandemi global yang menelan korban ratusan juta jiwa dari berbagai negara dan bangsa. Black Death yang terjadi pada tahun 1350, yang merupakan wabah pes yang membunuh ratusan juta jiwa, akhirnya meruntuhkan sistem feodalisme Eropa, tapi sekaligus juga mendorong munculnya kolonialisme.
