Corona dan Siapa Kita

Melalui Sampar, dengan gamblang Albert Camus menggambarkan karakter-karakter asli manusia ketika menghadapi absurditas hidup. Terbit pada 1947 dalam bahasa Prancis dengan judul La Peste, novel ini mengisahkan bagaimana Oran, sebuah kota yang tenang, tiba-tiba berubah menjadi kuburan masal setelah sampar mewabah.

Semua bermula ketika seekor tikus tergeletak mati di jalanan. Membusuk. Ah, cuma seekor tikus mati. Namun, ketika hari-hari berikutnya semakin banyak tikus mati bergeletakan di jalanan, warga Oran mulai bertanya-tanya. Cemas. Dan, kecemasan berubah menjadi horor ketika tidak ada lagi tikus yang mati, namun gejala pembengkakan bernanah mulai menjangkiti tubuh-tubuh warga kota. Rupanya itu gejala yang mengantar maut. Wabah itu, pes, terus menyerang dengan ganas, hingga mengakibatkan lebih dari 100 kematian setiap hari.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Yang pertama terbaca dari Sampar adalah ini: manusia seringkali abai pada isyarat, pertanda, gejala. (Ah, toh cuma seekor tikus yang mati. Tapi dari sanalah kemudian semuanya bermula). Hewan biasanya justru lebih peka terhadap pertanda alam ketimbang makhluk berakal yang bernama manusia.

Tinggalkan Balasan