Corona dan Siapa Kita

Semula, pada 1918, ketika Flu Spanyol mulai menyebar di negara-negara yang terlibat Perang Dunia I seperti Jerman, Inggris, dan Prancis, wabah yang telah membunuh banyak tentara ini ditutup-tutupi. Tujuannya untuk menjaga moral dan semangat tempur para serdadu. Namun, di Spanyol, negara yang masih netral, koran-koran masih bebas memberitakannya, termasuk saat flu menyerang Raja Alfonso XIII. Dunia menyangka flu itu datang dari Spanyol dan memberinya cap sebagai Flu Spanyol.

Tingkah polah manusia dalam menghadapi pandemi global itu yang tergambar dalam Sampar. Tapi kita, yang hidup di era yang disebut sebagai puncak kecerdasan manusia, era 4.0, di lingkungan generasi milenial, ternyata masih mewarisi karakter-karakter dari Sampar ketika berhadapan dengan Corona. Di panggung drama baru dengan lakon Corona, masih ada Rieux yang alpa pada pertanda, yang baru bertindak ketika semua sudah terlambat. Masih ada Paneloux yang membawa-bawa surga di tangan kanan dan neraka di tangan kiri, dan terus membiarkan pandemi tetap menjadi teka-teki. Juga masih ada Rambert, orang yang pandai memanfaatkan posisinya untuk menyelamatkan diri sendiri, tak peduli siapa menunggu giliran mati. Di panggung Corona ini, juga masih sesak oleh politisi yang membuat keadaan semakin gaduh sampai akal sehat runtuh.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Berhadapan dengan pandemi, ternyata kita masih tak beranjak dari karakter yang dibangun Camus justru ketika sudah hidup di era teknologi 4.0. Seperti filsafatnya Camus, manusia adalah makhluk yang absurd. Ia memang tak pernah berhenti belajar, tapi juga tak kunjung mau mengerti, tak kunjung mau memahami, apa yang telah dipelajari. Persis seperti dongeng Sisifus.

Tinggalkan Balasan