“Bisa. Dan SIM, kan, saya bisa beli,” jawaban si murid ini yang bikin Hoo melongo.
Cerita Hoo yang belum lama ini viral di media sosial itu tentu bukan khayalan. Nyata ada, dan di Indonesia pula. Sepintas itu perkara sepele: merayakan ulang tahun anak tercinta dengan kado istimewa. Tapi tanpa disadari, hal itu menggambarkan terjadinya proses pewarisan nilai-nilai dan penyemaian benih-benih generasi duniawi.

Di sana sedang dibangun konstruksi nilai-nilai bahwa pesta lebih penting daripada belajar; bahwa tujuan bisa menghalalkan segala cara; bahwa pada akhirnya yang utama adalah menjadi kaya. Mewah mengalahkan berkah. Dan generasi milenial yang beranjak remaja itu akan punya idola baru: Indra Kenz dan Doni Salmanan!
Fenomena ini bukan muncul tiba-tiba dari ruang hampa. Ia membonceng pada standar dan orientasi hidup yang telah berubah. Misalnya, entah sejak kapan, tanpa kita sadari, diam-diam kita telah memberikan penghormatan dan kekaguman yang lebih kepada anak-anak kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita, atau tetangga-tetangga kita yang secara materi lebih berada, lebih sukses, lebih mewah. Persetan dengan caranya. Masa bodoh akan prosesnya. Dan kita tiba-tiba menjadi pemuja berhala baru: kemewahan!
Dari masyarakat yang mulai menjadi pemuja kemewahan ini akhirnya lahir sebuah “sistem hidup” yang melulu berorientasi pada hasil dan tak lagi menjunjung tinggi proses dan etik. Maka semua menempuh dan mengambil jalan pintas. Jalan pintas untuk menjadi crazy rich. Jalan pintas untuk, bukan hanya menikmati, tapi juga mementaskan kemewahan ke ruang-ruang publik.
Gejala itu, kalau kita mau jujur, disuburkan sejak dari ruang-ruang pendidikan hingga ke liang-liang lahat yang kita bangun. Di pintu gerbang sekolah, satpam akan membungkuk lebih dalam jika kita mengantar anak dengan mobil dibandingkan dengan yang motoran. Sekolah-sekolah semakin mewah dan semakin mahal. Menjadi pintar adalah hak orang-orang kaya. Yang tak berduit jangan harap memperoleh pendidikan yang berkualitas. Di ruang-ruang kelas itulah anak-anak mengalami pendidikan yang nyaris zonder determinasi proses dan etik.
