Crazy Rich

Itu baru satu contoh gejala seperti apa “sistem hidup” yang kita bangun. Kini, hampir semua “sistem hidup” kita memang hanya berorientasi pada hasil dengan mempersetankan akan proses dan etiknya. Dan apa yang disebut “hasil” itu direduksi menjadi sekadar hal ihwal materi dan berbau kemewahan. Itulah kenapa yang kaya dan mewah lebih dihormati dan dikagumi ketimbang yang papa, meskipun yang disebut terakhir ini, misalnya, lebih berilmu dan berakhlak, atau telah menjalani proses hidup yang lebih beragam dan penuh perjuangan. Nilai kejuangan sudah tak punya arti lagi.

Karena kekayaan dan kemewahan telah menjadi berhala baru, maka orang ramai mulai lebih memilih untuk menempuh jalan pintas dalam meraihnya. Sayangnya, jalan pintas itu lebih sering tak hanya menabrak norma-norma agama dan moral, tapi juga menyimpang dari prinsip-prinsip dan hukum-hukum ekonomi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Misalnya, banyak orang berlomba mengeruk keuntungan sebesar-besarnya padahal tak memiliki kapasitas untuk berproduksi, baik produksi barang ataupun jasa. Ini jelas penyimpangan terhadap prinsip dan hukum ekonomi yang berlaku universal. Di mana, pendapatan dan keuntungan akan diperoleh dari sejauh mana kita memproduksi entah barang entah jasa dan mendistribusikannya ke pasar dengan baik.

Hari-hari ini, untuk menjadi kaya dan hidup mewah kita tak perlu lagi memproduksi dan mendistribusikan atau memasarkan barang dan jasa. Telah ada mantra baru untuk menggantikan diktum dari prinsip dan hukum ekonomi itu. Kita mengenalnya sebagai “D4” — duduk, diam, dapat duit.

Loh, orang cuma duduk dan diam kok dapat duit? Itulah keajaiban apa yang kita kenal sebagai robot trading. Orang awam seperti kita mungkin sulit untuk memahami teknis sistem kerja robot trading itu. Entah barang apa, jasa apa, atau “barang ghaib” apa yang ditradingkan dengan mesin robot itu. Tapi entah dengan cara apa dan bagaimana, diceritakan, dengan itu mereka mampu menyedot duit bermiliar-miliar bahkan triliunan rupiah. Entah duit siapa pula yang mereka sedot. Mirip-mirip kerja tuyul di masa lalu.

Dari situlah kemudian muncul sosok-sosok muda belia namun sudah super kaya atau tajir melintir, crazy rich, yang bergelimang kemewahan di ruang-ruang publik seperti Indra Kenz dan Doni Salmanan itu. Orang ramai pun berduyun-duyun mengidolakan dan ingin menjadi seperti mereka.

Tinggalkan Balasan