“Dahsyatullah”, Artikulasi Islami di Tengah Kepengapan Arabisasi

Problemnya bahwa kemungkinan kreativitas pemaknaan itu ternyata tak juga terbuka bahkan makin tertutup bersamaan dengan terus menguatnya klaim otoritas penafsiran hanya pada sekelompok orang, ar Rasyihuna fil ilmi (yang juga ditafsirkan sepihak), dan semangat kerinduan masa Nabi Muhammad yang sepenuhnya Arab sebagai kebenaran tunggal yang otentik. Celakanya, ketika ternyata, seperti yang kita renungkan dari sejarah Islam selama ini, bahwa otoritas penafsiran maupun kerinduan masa Nabi itu nyaris selalu berpeluk-mesra dengan kekuasaan politik sekuler yang sebenarnya tidak ada sangkut-pautnya dengan agama atau jaminan teologis yang bisa dipakai sebagai “kartu pas” masuk surga.

Itulah sebabnya sejarah Islam, di mana pun, nyaris seperti lukisan panjang dengan patahan-patahan lokal yang makin buram. Atau bagaikan pentas seni pertunjukan yang menempatkan Islam dan tradisi lokal seperti cerita panji yang antogonistis; pertemuan benar-salah, halal-haram, dan surga-neraka. Tak jelas, siapa yang kalah dan siapa pula yang menang, karena sebegitu jauh sebenarnya pertunjukan antagonis itu belum selesai dan masih terus berlangsung.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di negeri ini, misalnya, kita menyaksikan bahwa di tengah-tengah tak putusnya semangat gerakan puritan justru terlihat kreativitas resistensi semakin menguat dan dipertahankan. Tak usahlah melirik contoh-contoh kasus dari berbagai daerah di Indonesia yang memang hampir tak terbilang dan tak terhingga jumlahnya. “Dahsyatullah” yang dikutip di awal tulisan ini pun menjadi salah satu ilustrasi yang menarik.

Tinggalkan Balasan