“Dahsyatullah”, Artikulasi Islami di Tengah Kepengapan Arabisasi

Haruskah semua itu serba Arab, dan kalau tidak, menjadi tak sah, menjadi tak legitimed? Boleh jadi, muncul dan tersebarnya “Dahsyatullah” itu justru karena kepengapan di tengah Arabisasi. Arabisasi dan Arabisme nama-nama Tuhan dan setiap aspek ajaran Islam oleh kaum puritan, kaum salafi, dan kaum modernis Islam seperti yang kita saksikan selama ini justru menjadikan penyapaan Tuhan dan artikulasi religius memasuki ruang sempit dan menyudut. Jika salat dan berdoa (sebenarnya keduanya berarti sama) adalah perjumpaan dan persapaan seorang hamba dengan Tuhannya yang terakui, maka baik Mbah Gani maupun Pak Kromo menjadi tak mungkin melakukan kontak religius.

Soal berikutnya: tidak mungkinkah (secara teologis) penduduk bumi ajam (non-Arab) mempergunakan bahasa ibunya untuk menyapa dan mengartikulasikan semangat dan perilaku religiusnya? Apakah sebutan-sebutan Tuhan maupun ritual yang selama ini berserak di setiap pelosok bumi non-Arab menjadi mulgha, sia-sia, dan tak ditimbang bersama amal baik lain kelak di akhirat hanya lantaran semua itu tidak bervokal Arab? Apakah praktik-praktik ritual yang tidak secara persis mengikuti petuah Nabi, misalnya, shallu kama raaitakumu ushalli menjadi tidak sah, atau bahkan harus dituding sebagai “menyembah berhala”?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tuhan tentu tak hendak meng-Arab-kan seluruh makhluk-Nya di muka bumi, karena itu hanya akan mendistorsi ke-Maha-an-Nya. Kita pasti tidak tahu apakah planet lain dan penduduknya serba Arab. Yang sering dikabarkan kepada kita bahwa Jibril disuruh menyalin wahyu kepada Muhammad ke dalam bahasa Arab, semata karena Muhammad adalah orang dan berada di tengah-tengah bangsa Arab. Kita juga dikabari, ini karena kita terima dari bangsa Arab, bahwa Mungkar dan Nakir akan bertanya dengan bahasa Arab kepada setiap manusia yang baru dikubur: man rabbuka, waman nabiyuka? Siapa tahu, kedua malaikat itu bertanya: sopo Pengeranmu lan sopo nabimu kepada seorang mayit dari Jawa? Kita tak tahu, karena kita belum pernah mati.  

Meski ke-Ada-nya Tuhan tak boleh terjadi karena kita yang merumuskannya, soal penyapaan dan cara-cara kita menghambakan diri kepada Tuhan sepenuhnya diserahkan kepada kita. Walaupun dalam konteks ini, kita harus mengakui dan meyakini (sebagai makhluk) bahwa ke-Esa-an Tuhan dan ke-Maha-an-Nya adalah dasar paling penting untuk semua itu. Bukankah beragama, di luar ketauhidan, adalah soal kearifan kreativitas (pemaknaan) sesuai cita awal agama itu sendiri “diturunkan untuk manusia dengan seluruh kandungan kemanusiaannya”. Dan ini berarti bahwa keragaman dan pluralitas dalam merumuskan dan pilihan cara semestinya mendapatkan tempat yang memadai.

Tinggalkan Balasan