Dakwah Digital: Ketika Kredibilitas Dikalahkan Popularitas

Satu kondisi yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah ketika ada influencer muslim yang hanya bermodal wajah rupawan, pandai public speaking, dan punya alat pembuat konten lengkap –meski mereka belum menguasai ilmu keagamaan yang memadai. Bahkan, yang tidak pernah mengenyam pendidikan keagamaan secara intensif sebelumnya pun turut serta dalam aktivitas dakwah Islamiyah digital.

Tentu saja realitas ini membahayakan umat Islam, khususnya yang masih awam dalam ilmu keagamaan. Sebab, kehadiran mereka membuat umat Islam “mengonsumsi” ilmu keagamaan yang tidak jelas sumber data dan dalilnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mengingat bahwa sikap dasar manusia dewasa ini rata-rata suka hal yang instan dan serba cepat, termasuk dalam belajar ilmu agama, kehadiran influencer muslim yang belum tentu memiliki kredibilitas dan otoritas keilmuan ini digemari oleh banyak khalayak.

Di samping itu, kehadiran ustaz dan ustazah digital yang punya popularitas tinggi ini juga menggeser peran sentral para kiai kampung dalam membimbing umat Islam. Para kiai kampung yang lebih jelas kredibilitas dan otoritas keilmuannya, namun tidak punya popularitas tinggi, pun mulai banyak ditinggalkan oleh umatnya sendiri.

Bila terus-menerus terjadi, kondisi seperti ini dapat mengakibatkan terjadinya bias keilmuan antara informasi keilmuan yang valid dan tidak. Pada gilirannya, bias ini akan mengakibatkan kebingungan dalam diri umat Islam, khususnya yang masih awam, dalam mencari ilmu agama. Dampaknya akan luar biasa, di antaranya salah memahami ajaran Islam sehingga muncul sikap-sikap dan bila sampai salah paham, akibatnya mereka ekstrem, radikal, intoleran, dan semacamnya dalam beragama.

Melalui tulisan ini, penulis bukan berarti tidak menghargai kebebasan berpendapat orang lain. Namun, harus ditegaskan bahwa berdakwah, termasuk berdakwah di dunia maya, harus dilakukan oleh pendakwah yang memiliki kredibilitas dan otoritas keilmuan yang memadai, bukan sekadar berbekal popularitas semata.

Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh Profesor Quraish Shihab, salah seorang ahli tafsir Al-Qur’an hebat Indonesia. Dalam salah satu kesempatan, Quraish Shihab berkata, “Memang sulit menghalangi orang berpendapat soal agama mereka, tapi seharusnya mereka sadar bahwa setiap ilmu memiliki syarat. Tidak semua bebas berpendapat tanpa otoritas.”

Tinggalkan Balasan