MAHABBAH
Ibu,
Jika aku bisa memutar waktu
ingin kuakhiri detaknya di pangkuanmu.
Lalu aku tumpahkan selaksa cerita
tentang purnama yang sembunyi di balik awan
tentang mawar yang tumbuh subur di taman hati
tentang laut yang menenggelamkan dalam birunya
tentang angin yang mengoyak rinduku
tentang bara cinta yang membakarku
hingga luluh lantak.

Lalu engkau, Ibu
tersenyum dan tertawa
melihatku terkapar di simpang jalan
September 2021.

Sang penyair yang punya talenta. Selamat, Neng, semoga kita selalu diberi waktu dan kuasa untuk berkarya (yang nafi’, tentunya)!
Amin…terima kasih apresiasinya. Masih belajar ini gus!