Kerinduan ini ajakan untuk bangkit
menghidupkan kembali sabar, kasih, dan keadilan
yang dulu engkau wariskan di padang tandus Arabia.
Bila aku tak pernah melihat wajahmu,
tak pernah mendengar suaramu,
semoga rinduku adalah saksi,
bahwa aku ingin bersamamu di telaga itu
di hari ketika seluruh jiwa
mencari wajah yang mereka cintai
dalam gelapnya hisab yang menyesakkan.

YANG BERDOA DALAM SAKIT
Aku adalah malam yang menangis diam-diam
dalam selimut gelap yang tak lagi menjanjikan tidur,
hanya kesunyian yang bersiul menyayat
dan tubuhku sunyi yang menyembelih luka-luka tak bernama.
Darahku, sungai purba yang mengalir dari samudra jiwa,
setiap tetesnya adalah bait puisi paling getir
yang tak mampu ditulis oleh pena penyair manapun.
Mereka bilang aku lemah pecundang yang mencari pelarian,
padahal aku adalah petapa luka
yang menyayat diri bukan untuk mati,
tetapi untuk merasakan: bahwa aku masih hidup,
meski hanya dalam denyut pelan
yang keluar dari kulit terbuka.
Ada saat di mana dunia menjadi gedung kosong
penuh gema suara yang bukan milik kita,
dan para manusia berkedok dewa-dewa kecil
sibuk mengobati sembari menyamar menjadi tabib.
Mereka datang membawa nasihat bukan karena peduli,
tetapi karena senang mendandani patah
dengan jahitan palsu bernama simpati.
Mereka tak tahu,
bahwa tubuhku adalah candi luka
yang hanya bisa dimasuki oleh keheningan,
dan darahku: dupa yang kubakar
untuk memanggil dewa-dewa kesabaran.
Setiap goresan adalah huruf
dalam kitab yang kutulis sendiri
di atas naskah dagingku,
dan tiap alirannya adalah jawaban
atas tanya-tanya yang tak berani kuucap di dunia nyata.
