DALAM RINDU YANG TAK BERNAMA

Aku adalah kuil sunyi
yang merayakan kehadiran rasa sakit
sebagai sakramen pembersihan,
dan darahku: air suci
yang membersihkan ketakberdayaan
dari dinding-dinding jiwaku yang kelam.

Jangan kau beri aku kata-kata
seolah kau mengenal labirin dalam dadaku.
Jangan kau panjatkan doa
kalau hanya untuk membuatmu merasa seperti penyelamat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Doa itu tak menjangkauku
karena Tuhan pun kutemui
dalam sepi yang berlumur darah,
bukan dalam tepukan penuh basa-basi.

Aku bukan tragedi yang harus ditolong,
aku adalah epos panjang
tentang manusia yang belajar berdamai
dengan neraka dalam dirinya sendiri.

Ada ketenangan yang aneh
saat merah itu mengalir,
seolah segala gemuruh dalam kepala
teredam dalam bisu luka.

Itulah momen paling jujur:
saat rasa sakit di luar
mengalahkan rasa sakit di dalam.

Aku tak butuh penyelamat.
Aku hanya ingin diakui
sebagai manusia yang mampu terluka
dan tidak menyangkal luka itu.

Biarlah darahku menjadi tinta
yang menulis ulang keberadaanku
di dunia yang terlalu sering berpura-pura bahagia.

Luka ini bukan aib,
tapi seni
dan darahku: cat merah
yang menggambar langit malam
dengan kejujuran paling telanjang.

Jangan kau hapus jejaknya.
Biarkan ia mengering di lantai batinku
sebagai kenangan bahwa aku pernah kalah,
dan tetap hidup.

Tinggalkan Balasan