DALAM ZIARAH ABADI

DEMIKIANLAH KUTULISKAN NAMAMU DALAM ZIARAH ABADI

Perjalananku menemuimu adalah kepingan
ziarah abadi
Menuju kepada Yang Tak Terbatas

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kini aku milikmu seutuhnya
Hujamlah dadaku dengan pedang sabdamu
Lantas koyaklah jantungku yang telah lama
merana
Betapa itu akan membebaskan burung jiwaku
yang telah sekian lama terkurung dalam
penjara raga

Duhai, Pemersatu jagat raya:
Setiap celah sepanjang Maghrib hingga Masyriq
Kau isi dengan Matahari dan Rembulan
Selipkan pula Cahaya dan Sinar itu ke dalam
jiwaku
Keduanya akan menjadi jalanku menuju Langit

Mula-mula adalah kata
Lalu hati yang nelangsa mulai menangis
Sesaat setelah mendengar suaramu
Yang dihantarkan angin dan aliran sungai
anggur kesucian

Kita begitu lekat
Kau lebih dekat daripadi urat nadiku
Aku takkan pernah bersedih karena aku tlah
mengenalmu
Meski kakiku terbius bisa ular
Meski ragaku tertusuk delapanpuluh
anak panah

Aku takkan bersedih
Karena pagi ini kita begitu mesra
Begitu teramat mesra seakan sepasang pecinta
yang sudah lama memadu kasih
di bawah bayang-bayang pohon delima

Kemesraan kita begitu mendalam di antara
bisingnya para pewarta kebenaran yang
begitu angkuh
Di tengah hiruk-pikuk para pesiar
yang berbahagia untukmu tapi tak pernah
benar-benar mengenalmu

Lihatlah, penaku patah ketika menuliskan
namamu
Kemudian kupahat batu yang kupikir kekal
Tapi batu itu pecah
Berkeping-keping
Berdarah-darah
Lalu hendak kupinjam bulu-bulu dari sayap
malaikat
Yang selalu menemani perjalananku
Seketika saja mereka tertunduk malu
mendengar namamu

Saat semuanya terdiam
Mega menurunkan hujan ilham
Kata-kata yang membasahi jiwaku
Tinta Langit yang tumpah merasuki aliran
darahku
Masuk dari kulitku yang tlah terbakar api rindu
padamu

Dan aku berseru:
Hiduplah kata-kata
Menjelmalah menjadi bait-bait magis
Hiruplah saripati zarahku
Bangkitkan ruhku yang mati
Agar menjadi jiwa yang tenang
Dalam perjalanan yang tak berbatas

Lalu kunyanyikan sederet zamir yang terlahir
dari berbagai kerinduan purba;
Gunung-gunung
Burung-burung
Turut menari dan bernyanyi bersamaku
Sebagaimana besi yang melunak terbakar api

Demikianlah kutuliskan namamu dalam
perjalanan
Ziarah abadi kepada Cinta yang tak berujung
Sembari mendaras nestapa akanmu yang
teramat sulit kurengkuh

Demikianlah kutuliskan namamu
Dalam mantra yang kuciptakan
Agar bisa memanggilmu:
Kekasih

2023.

TABIR
(Untuk Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya)

Dalam pembaringan malam aku melihat
Kita berhadapan di tengah Semesta
Berbicara melalui sunyi

Tanganku di bawah tanganmu
Yang menggenggam tanganku erat
Seakan enggan melepaskan
Aku yang masih saja terbayangi dunia

Akankah kau tetap mencintaiku,
Kekasih?

Kucoba mengarungi samudera matamu
Seraya kudapati jiwa lukaku
Dengan tubuh yang berdarah
Yang sedang kau balut
Menggunakan bebat perekat aku dan kau
Sembari menyalakan dian penerang serambi

Tinggalkan Balasan