DALAM ZIARAH ABADI

Tapi janganlah kau tinggalkan patung yang tak sekalipun berpikir ini

Patung yang kalah dari terik,
Yang lebih payah dari jilat kesengsaraan,
Yang membiarkan Cahaya-Nya berlalu

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dan memang aku hanyalah pejalan yang mudah dilupakan; meski bumi tlah patuh, meski langit tlah bergerak, meski laut tlah bergejolak

Aku hanyalah tubuh yang diterbangkan oleh kepakan burung jiwa, tak sebanding denganmu: Kekasih dari pemilik Simurgh–kau basahi tiap lembar hati anak manusia dengan air kehidupan dari samudera-Nya

IV.
Bisikkanlah, Kekasih, apa yang akan kutemui dalam kegelapan malam: ialah siksaan yang lebih berat dari penjara raga ataukah nyanyian sebuah rahmat?

Di tengah malam keempat kami terus saja berbicara akanmu

Tentang dinding bumi yang selalu enggan menelanmu

Atau Cahaya yang melingkar di atas kepalamu atau di tengah dadamu

Pernah satu malam pertama pada tahun yang baru kami meminum susu hikmah, beserta kesuciannya yang berujung padamu

Kemudian kami akan berdoa–dan aku, sebongkah liat yang dihidupkan seraya terselimuti dengan kelembutan

V.
Ia sematkan keindahan pada angin agar bisa menari di atas atapmu

Menundukkan matahari untuk patuh pada debu

Lantas kepada merpati Ia sematkan sayap yang membuka setapak bagi para pejalan yang menujumu

Isyarat-isyarat Langit tak pelak lagi demikian jelasnya, sehingga ketika para pendusta ingin membelokkan jalan kami mereka tahu itu tak mungkin

Menara gading kepalsuan menjulang begitu tingginya yang tak lain hanyalah menyentuh mega-mega tanpa mereka pahami apa arti Yang Maha Tinggi

Tak tahukah mereka bahwa hanyalah dedaunan yang kering dan perak sekadar salju yang menghujani? Ataukah mata mereka tlah buta karena tertusuk selubung duri?

Ah, wahai sekawanan burung kepalsuan–jiwa-jiwa yang mati lantaran embun mahkota dan mutiara yang lekas menguap pada pagi hari; kapan kalian bisa merasakan Cahaya Matahari?

VI.
Di rumahmu yang bagai labirin
Gemuruh angin mengheningkan cipta
Sekawanan burung berdekapan mesra
Pasir menghangatkanmu sekaligus
mendinginkan

Genderang hati yang sunyi itu
Petikan sitar sukma yang memabukkan
Seruling jiwa yang melenakan
Demi apa dan bagaimana kau bisa
mencintai kami?

2023.

Tinggalkan Balasan