Lewat mata teduh itu saat kau menatapku
Aku saksikan diriku menangis
Tak ubahnya bayi Ismail yang lapar
Memohon air susu Hajar yang kering
Dan dengan segala Rahmat
Malaikat membawakan mata air yang
Tiada pernah habis
Haruskah kudekap kau dengan erat
Untuk memadamkan laraku?

Kita bersila di antara Cahaya
Aku coba memungut cahaya itu
Tapi yang kutemui
Hanya batu-batu langit yang dingin
Yang kerap meminjam kata-kata dari Jibril
Untuk membisikkan para musafir
Arah jalan pulang
Lalu kucoba menyibak malam
Namun roda waktu menahanku
Seakan tak rela aku meninggalkanmu
Di tengah Semesta sunyi
Tanganmu merengkuh tanganku
Yang kugenggam lebih erat
Dan kukecup dengan amat mesra
Lebih mesra dari sepasang kekasih
Di mabuk asmara
Bahkan malaikat-malaikat
Mendekatkan telinganya
Seolah ingin mencuri dengar
Perbincangan kita yang hening itu
Bukankah memang pernah datang
Kepada sebelum kita
Saat-saat yang disembunyikan dan
Baru akan dibuka ketika semuanya
Telah ditiadakan?
Maka berikanlah aku
Seteguk saja air barus dan serbat
Dari cawan kristal itu
Juga susu dari Telaga yang teramat jauh itu
Lihatlah kini
Aku takkan berpaling
Dari malam-malam esok yang ‘kan datang
Agar bisa menyingkap cara Matahari
Memberikan Cahaya kepada Rembulan
Saat bersembunyi di pekat gelap
Lihatlah
Tanganmu yang menggenggamku erat
Malam ini terus saja memberkas
Sehingga dengan mata buta ini kulihat
Semesta berpendar di sekitarku
Dalam pembaringan malam ini
Aku melihatmu
Tersenyum padaku
2023.
MADAH DI MU’ALA
(untuk Abuya Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Abbas Al-Maliki Al-Hasani)
I.
Dan menangislah gunung-gunung batu
–gigir yang merana lantaran keangkuhan para rahib yang menutup gerbang kesejukan Yang Maha Tinggi
Sementara sekarang kau genggam tanah yang tak pernah mati, di bawah kakimu, di atas kepalamu, di dalam dekapanmu, juga di dalam segala doa dari para peziarah dari berbagai pelosok negeri
Hari ini aku datang kepadamu, Kekasih
Untuk menyentuh tanah itu seperti yang pernah dijanjikan dan segalanya akan bersamamu
II.
Doakanlah aku, berhala tanah yang bodoh ini, agar bisa dekat denganmu di Negeri entah berantah yang jauh itu nanti
Kumohon bangkitlah
Sambutlah tanganku
Hidupkanlah aku dari kematian
yang selama ini membebani jiwaku
Tiadalah rahasia lagi
Antara hatiku dan hatimu
Jikalau kau berbicara, makalah aku mendengar–dan niscaya semua itu adalah titah Sang Raja
III.
“Alangkah bebalnya patung ini, membiarkan Matahari lewat begitu saja,” tulis seorang sufi
