Kita tahu, penyebutan Jokowi sebagai Firaun itu sempat memanaskan suhu politik nasional. Saya bahkan sempat membuat satu tulisan tentang hal itu di sini. Dan kita tahu, sampai Minggu ini Jokowi menjenguk Cak Nun, tak ada sepatah kata pun yang diucapkannya untuk merespons penyebutan sebagai Firaun itu.
Kita hanya bisa melihat yang kasat mata; bahwa Minggu ini Jokowi menjenguk Cak Nun; atau Cak Nun dijenguk Jokowi. Kita tak bisa membaca isi hati Jokowi, seperti halnya kita tak bisa membaca hati Cak Nun ketika ia melontarkan sebutan “Firaun” itu. Apakah yang kita lihat adalah realitas yang sesungguhnya? Atau hyper-reality? Adakah simulacrum di sana, di antara keduanya?

Untuk memahaminya ada pintu masuk yang disebut distingsi (distinction). Melalui pintu itu kita bisa melihat posisi keduanya yang memang berbeda. Cak Nun sebagai budayawan, di sisi yang berbeda Jokowi sebagai kepala negara atau negarawan. Keduanya akan “berkoeksistensi” bahkan dengan cara-cara yang tak lazim. Misalnya, yang diserang justru merangkul. Atau yang dirangkul tetap menyerang.
