Dari Bedah Buku Negara Rasional

Hal ini bagi Fachry Ali menunjukkan pentingnya mewarisi dan menemukan kembali semangat berpikir ulama-ulama terdahulu, seperti yang dilakukan Abdul Aziz dalam mengaji kembali karya-karya Ibnu Khaldun. Sebab, semangat intelektual seperti ini yang akan menjadi kunci kemajuan di masa depan.

Fachry Ali juga yakin, dalam empat tahun ke depan, selama menjalankan tugasnya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi, Abdul Aziz akan menemukan banyak hal baru untuk dikaji dan diuji karena memiliki perbandingan yang makin beragam setelah bermukim di negara yang tradisi intelektualnya berbeda. “Kita tunggu karya-karya berikutnya,” katanya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Rupanya, untuk itu Abdul Aziz sendiri sudah punya gagasan. Salah satunya akan membuka program Pusat Studi Kebudayaan Arab yang akan ditempatkan di UIN Sultan Maulana Hasanuddin SMH Banten. Dengan adanya Pusat Studi Kebudayaan Arab di Indonesia, diharapkan akan ada mahasiswa-mahasiswa dari Saudi Arabia yang belajar keislaman di Indonesia.

“Sudah bukan zamannya belajar keislaman ke Arab atau Timur Tengah. Justru, akan lebih baik kalau mereka yang belajar ke sini, menjadi santri di Indonesia. Sebab, Islam di Indonesia sekarang justru lebih maju,” katanya.

Acara bedah buku diakhiri dengan penyerahan dua buku karya para santri yang diterbitkan jejaring duniasantri kepada para nara sumber. Masing-masing buku yang berjudul Tuhan Maha Rasis? dan Dan Sepatupun Menertawakanku itu diserahkan oleh Anggota Dewan Pembina jejaring duniasantri, Halim Pohan.

Tinggalkan Balasan